Sementara itu, lanjut dia, Ki Abdul Jalil dan Ki Abdul Rochim melanjutkan perjalanannya melewati lembah lereng Gunung Penanggungan.
Mereka berdua tetap terus berjalan dengan sisa laskar Pangeran Diponegoro yang masih tinggal beberapa orang, menyusuri jejak sungai lewat bebatuan yang terjal di bagi dua poros ke Utara dan ke Barat lalu istirahat beberapa saat di bawah pohon yang sangat rindang dan teduh, karena di tempat tersebut masih kurang aman dari pengejaran kolonial Belanda.
"Akhirnya mereka bergeser 700 meter keselatan sembunyi sambil membuat Goa Corogan dengan kedalaman 20 meter, sampai berhari-hari mereka bersembunyi di dalam Goa yang ada di Desa Sumber, Kecamatan Trawas, Mojokerto," paparnya.
Goa tersebut, kata dia, masih ada hingga sekarang dan di dalamnya ada aliran air untuk kehidupan masyarakat setempat, akhirnya kolonial Belanda tidak bisa menemukan mereka semua sisa laskar Pangeran Diponegoro tersebut, karena selamat dari pengejaran dan pengepungan kolonial Belanda hingga daerah tersebut dinamakan Desa Sugeng, artinya Selamat.
"Sampai akhirnya Ki abdul jalil dan sahabatnya Ki abdul Rochim wafat dan dimakankan oleh pengikutnya di tempat pohon yang rindang pada peristirahatan pertama," tuturnya.
Ia mengatakan, dari cerita rakyat leluhur beliau berdua punya pemeliharaan seekor macan putih dan seekor "naga".
"Tiap tahun kami berikan sedekah bumi berlangsung hingga saat ini," tambahnya.
Ia mengatakan, pada saat melakukan sedekah bumi, juga melakukan kegiatan pagelaran wayang yang berada di depan goa tersebut.
Batu Wayang
Tidak hanya Goa Corogan yang menjadi daya tarik di lokasi tersebut, tepat di bawah mulut goa juga terdapat "batu wayang" yang diyakini sebagai tempat petilasan dari pengikuti Pangeran Diponegoro.
"Di batu tersebut, diyakini sering muncul gambar tokoh pewayangan Arjuna pada waktu-waktu tertentu, dan pada saat batu tersebut disiram dengan menggunakan air bunga," tuturnya.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa batu tersebut mengeluarkan gambar wayang yang ada di dalam batu. Tetapi yang jelas, kalau pada bulan Sura pada penanggalan Jawa, batu tersebut pasti mengeluarkan gambar wayang. Sementara pada hari-hari biasa tidak terlihat gambar tersebut.
Di desa tersebut, tidak hanya satu goa saja yang bisa ditemui melainkan ada dua goa yang satunya berada sekitar 500 meter dari Goa Corogan. Di lokasi ini, memang jarang didatangi pengunjung karena lokasinya yang sangat curam, di bawah jurang.
"Warga masyarakat meyakini jika aliran air yang berasal dari dalam goa tersebut debit airnya sedikit maka ada warga masyarakat yang sedang bertengkar atau juga sedang mengalami masalah," ceritanya.
Di lokasi goa tersebut juga sempat ditemukan arca dan juga barang-barang peninggalan zaman dahulu seperti koin emas dan juga guci serta artefak lainnya.
"Namun, karena tangan-tangan jahil kini peninggalan tersebut sudah tidak ada lagi," pungkasnya.
Pernyataan tersebut dibenarkan oleh Rudi Hartono dari Koramil Trawas yang menyebutkan masih banyak orang yang ingin mencari berkah dengan bersemedi di lokasi tersebut.
"Lokasi ini memang belum banyak diketahui orang, dan saat ini masih sebatas informasi dari mulut ke mulut saja," katanya.
Untuk akses ke lokasi goa tersebut, agak sulit yakni dari arah Mojosari mengambil arah Trawas. Baru sekitar 15 kilometer kemudian sampai di SDN Jatijejer Trawas. Dari lokasi tersebut akan ditemukan jalan makadam sepanjang tiga kilometer hingga akhirnya sampai di Desa Sugeng.
Lokasi desa yang berpenduduk kurang dari seribu jiwa ini memang sedikit terpencil karena berada di bawah lereng Gunung Penanggungan. Sesampai di Desa Sugeng, masih harus ditempuh lagi dengan jalan kaki sepanjang dua kilometer menyusuri jalan setapak yang ada di lereng gunung dan sampai di lokasi Goa Corogan.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.