Bojonegoro (Antara Jatim) - Menyantap menu belut sebenarnya sesuatu hal yang biasa, karena banyak dijual para pedagang makanan.
Tapi menikmati menu belut "Gimbal, dan "teman-temannya" seperti belut "Geprak", dan "Jaher Dedel Duwel", yang menjadi menu makanan khas di Warung Tempuran, di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Bojonegoro, akan diperoleh suasana nan penuh sensasi, karena lokasinya di pedesaan.
"Saya memang sengaja menjual makanan, sekaligus alam pedesaan. Kalau ingin menikmati makanan dengan suasana pedesaan yang asli, ya di Warung Tempuran," kata pemilik Warung Tempuran di Desa Sumodikaran, Kecamatan Dander, Bojonegoro Arif Mustofa (25), Kamis (4/9).
Lokasi warung setempat, berada di sejumlah rumpun bambu, dengan udara yang sejuk, yang dibawahnya terdapat sebuah sungai kecil, yang bukan sungai buatan.
Di antara rumpun bambu itu, pengunjung bisa menikmati makanan di atas gazebo yang juga dibuat dengan batang pohon bambu dengan atap welit.
Bahkan, kata Arif, ada rombongan pengunjung yang datang untuk merayakan sesuatu justru meminta menyantap menu makanan tidak di atas gazebo, tetapi memilih turun di antara rumpun bambu yang berdekatan dengan sungai kecil.
"Mereka menyantap makanan apa adanya di bawah dengan cara prasmanan di antara rumpun bambu di dekat sungai itu," ucap dia, seraya menunjukkan lokasinya, yang masih di atas tanah miliknya.
Hanya saja mencapai Warung Tempuran bukan perkara mudah, karena lokasinya masuk di antara rumah-rumah warga di desa setempat.
Namun, Arif mempunyai cara untuk memandu pengunjung mencapai warungnya yaitu di setiap pertigaan diberi tanda arah menuju warungnya.
Dari Kota Bojonegoro, jaraknya sekitar 8 kilometer di jalan raya Bojonegoro-Dander, kemudian masuk jalan desa menuju kawasan yang pernah dicanangkan mantan Gubernur Jatim Basofi Soedirman sebagai desa wisata.
Seperti dijelaskan Arif, Warung Tempuran baru berdiri sekitar setahun lalu, tetapi pengunjungnya sudah cukup banyak dari berbagai kalangan, mulai masyarakat umum, juga pegawai negeri sipil (PNS) dan pelajar.
"Saya memanfaatkan media sosial untuk promosi juga melalui berbagai cara lainnya. Pengunjung yang datang kesini bukan orang lewat, ya karena memang ingin datang untuk makan dengan suasana pedesaan asli," katanya, menegaskan.

Pengunjung yang datang ke warungnya, katanya, juga mengabadikan dengan kamera atau melalui kamera telepon selular yang kemudian mengunggah di media sosial.
"Pengunjung yang datang juga tidak hanya sekedar makan, tetapi juga mencari sensasi dengan mengungah ke media sosial. Kami buka setiap hari sejak pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB, kecuali Jumat libur," jelasnya.
"Saya datang dengan teman-teman karena mendengar suasana makan di Warung Tempuran nyaman, juga makanannya enak," kata seorang mahasiswa Universitas Bojonegoro Ratih, dibenarkan pengunjung lainnya seorang guru SMAN 2 Aries.
Mengenai harga makanan di Warung Tempuran, juga tidak tidak berbeda dengan menu makanan di warung lainnya yaitu satu porsi belut "gimbal", belut "geprak" atau Jaher dedel duwel", rata-rata Rp13.000/porsi, belum termasuk nasi dan minuman.
"Pengunjung paling suka dengan menu belut "gimbal", dengan rasa khas pedas dan gurih, sebab belut asli dari rawa-rawa, bukan belut budi daya," ucapnya. (*) (Slamet Agus Sudarmojo).
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026