Surabaya (ANTARA) - Keberadaan Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat di kawasan Lakarsantri, Surabaya, dengan merangkul usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal yang dikemas dalam konsep wisata kuliner tradisional.

“Awalnya itu memang keinginan wali kota dan camat supaya ada nilai ekonomi kerakyatan di Lakarsantri, supaya ekonominya berputar,” kata Ketua Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari, Ningsih, kepada ANTARA di Surabaya.

Ningsih menjelaskan konsep pasar tersebut sejak awal dirancang untuk melibatkan warga sekitar sebagai pelaku utama kegiatan usaha, agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia menjelaskan, di pasar tersebut ada sebanyak 23 lapak UMKM yang sebagian besar pedagangnya merupakan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak bekerja. Pengelola Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari berkeinginan untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk membantu perekonomian keluarga.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas ekonomi di pasar tersebut mulai memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan keluarga para pedagang.

“Alhamdulillah mulai terlihat, yang awalnya hanya mengandalkan suami, sekarang ekonominya sudah mulai meningkat,” kata Ningsih.

Pengelola pasar juga mengatur jenis dagangan yang dijual setiap pedagang agar tidak terjadi persaingan langsung antarpelaku usaha. Dengan aturan itu, seluruh pedagang memiliki kesempatan merata untuk menarik pembeli.

Selain mengandalkan transaksi langsung di lokasi pasar, pengelola juga mendorong para pelaku UMKM untuk mengembangkan pemasaran berbasis digital agar usaha mereka dapat menjangkau konsumen lebih luas.

“Kita juga kolaborasi dengan Pemkot Surabaya untuk mengajarkan kepada mereka digital marketing. Supaya ibu-ibu ini tidak hanya jualan di sini, tetapi juga bisa jualan online dari rumah,” ujarnya.

Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari merupakan destinasi wisata kuliner bernuansa desa tradisional Jawa yang menghadirkan pengalaman berbelanja makanan khas menggunakan sistem koin kayu sebagai alat tukar.

Pasar ini berada di kawasan Pepunden Nyai Pandan Sari, Kelurahan Jeruk, Lakarsantri, dan diresmikan pada Juli 2024 oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Sebagai destinasi wisata kuliner, Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari menghadirkan berbagai makanan tradisional khas Jawa Timur seperti angsle, ronde, sego pecel, srabi ndeso, hingga aneka jajanan pasar dengan harga terjangkau.

Untuk menjaga nuansa tradisional, para pedagang mengenakan busana kebaya, sementara sistem transaksi menggunakan koin kayu dengan tiga bentuk berbeda sebagai pengganti uang tunai, yakni koin bulat senilai Rp2 ribu, koin persegi Rp10 ribu, dan koin segitiga Rp20 ribu.

“Pengunjung harus menukar uang dengan koin kayu terlebih dahulu. Ada yang bulat, kotak, dan segitiga. Ini kami buat agar suasana pasar terasa unik dan berbeda dari pasar modern,” ujarnya.

Salah satu menu yang ditawarkan di Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari tersebut adalah pecel daun jati yang dijual seharga Rp10 ribu atau satu koin persegi, sedangkan ketan dijual seharga Rp4 ribu atau dua koin bulat.

Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari beroperasi setiap akhir pekan, pada Sabtu pukul 16.00 hingga 21.00 WIB dan Minggu pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Selain menjadi destinasi wisata kuliner berbasis kearifan lokal, pasar tersebut juga menjadi ruang interaksi ekonomi warga.

 

*) Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur



Pewarta: Widya Chandrawati
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026