Kediri (Antara Jatim) - Panen raya sejumlah bahan kebutuhan pokok seperti padi dan sayuran memicu inflasi di Kediri pada Maret 2014 yang mencapai 0,02 persen, lebih rendah daripada inflasi Februari 2014 sebesar 0,05 persen. "Pada Maret ini, sudah mulai panen raya, jadi harga beras pun turun. Kondisi sekarang sudah relatif stabil, jadi inflasi pun datar," kata Kepala Seksi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kediri Lulus Haryono di Kediri, Selasa. Pihaknya mengatakan inflasi yang terjadi pada Maret 2014 ini memang cukup rendah. Sejumlah komoditas yang menyebabkan tekanan terjadinya inflasi di antaranya telur ayam ras, daging ayam ras, bayam, cabai Merah, kelapa, serta sejumlah bahan pokok lainnya termasuk beras. Harga beras cenderung turun, karena panen raya. Inflasi 0,02 persen itu, kata dia, juga terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,43 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,37 persen, kelompok sandang 0,05 persen, kelompok kesehatan 0,23 persen, dan kelompok transportasi, komunikasi serta jasa keuangan 0,07 persen. Pihaknya menyebut, komoditas yang memberikan sumbangan terbesar terhadap inflasi di Kota Kediri pada Maret 2014 adalah cabai rawit, bawang putih, pisang, nangka muda, minyak goreng, sampai kue basah. Menyinggung tentang pengaruh erupsi Gunung Kelud (1.731 mdpl) pada Kamis (12/2) lalu, apakah masih ada, Lulus menyebut masih memengaruhi inflasi, di antaranya adalah kenaikan harga genteng serta kayu balok. "Pengaruh erupsi masih ada. Harga genteng dan kayu balok tinggi, karena tingginya permintaan," jelasnya. Namun, ia menyebut, inflasi yang terjadi di Kediri pada Maret 2014 ini, termasuk paling rendah jika dibandingkan daerah lain. Dari delapan daerah di Jatim sebagai penimbang IHK ¿ inflasi nasional, semua mengalami inflasi, dan paling terendah Kediri. Inflasi yang terjadi di Jember 0,03 persen, Sumenep 0,08 persen, Probolinggo 0,16 persen, Banyuwangi 0,20 persen, Surabaya 0,23 persen, Madiun 0,25 persen, dan Malang tertinggi 0,43 persen. Inflasi di Jatim pun cukup tinggi, 0,23 persen, mengalahkan inflasi nasional yang hanya 0,08 persen. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026