"Kami bersyukur, karena kedatangan wisatawan tidak terlalu terpengaruh dengan abu vulkanik, meski Borobudur sempat ditutup dalam beberapa hari, namun para wisatawan yang kecewa umumnya dapat memaklumi dan justru membantu kami untuk bersih-bersih," tuturnya.
Menurut dia, pembersihan Candi Borobudur dalam setiap hari melibatkan 200-300 relawan. Mereka berasal dari kalangan umat Buddha, karyawan hotel, pemandu wisata, pedagang asongan, pelajar, dan para turis.
"Bahkan, tidak hanya melibatkan orang Jawa Tengah, tapi paling jauh ada yang datang dari Surabaya, juga ada beberapa turis Korea yang mengikuti Kemah Budaya Internasional pun ikut," paparnya.
Secara teknis, pembersihan tinggal 2-3 hari lagi, sehingga pembersihan kering dengan sapu dan pembersihan basah dengan semprotan air sudah bisa dianggap selesai.
"Jadi, tinggal tahap akhir yang akan kami lakukan sendiri, karena prosesnya lebih internal," tukasnya di sela-sela menerima "Family Outing 2014" LKBN Antara Biro Jawa Timur.
Tahap akhir yang internal adalah pembersihan sistem drainase di bawah pelataran Borobudur yang mungkin perlu dikeruk dan dibersihkan dari kubangan abu dan pasir halus yang merupakan sisa-sisa dari proses pembersihan kering dan basah sebelumnya.
Meski pembersihan oleh relawan dihentikan pada Selasa (25/2), katanya, namun relawan yang datang ke Borobudur akan tetap diterima, namun bila jumlahnya besar akan dialihkan ke candi-candi di Yogyakarta yang proses pembersihannya belum maksimal.
Selain relawan yang terus berdatangan, wisatawan yang datang pada libur "akhir pekan" (Sabtu dan Minggu) juga tetap ribuan. "Kalau hari normal, setiap akhir pekan selalu ada 5.000-10.000 pengunjung yang datang ke Borobubur dan pada hari-hari biasa berjumlah 2.000-an pengunjung," tandasnya.
Rabu (26/2), pembersihan candi Borobudur tuntas, hingga secara keseluruhan kawasan wisata bersejarah tersebut dibuka seluruhnya untuk umum, pelancong sudah bisa menikmati candi hingga puncaknya.
Ya, selang sepuluh hari dari erupsi Kelud, wisatawan asing pun masih banyak yang datang, di antaranya dari Italia, Rusia, China, dan sebagainya, kendati wisata Borobudur "rasa" Kelud, he-he.... (*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.