Surabaya (ANTARA) - Di tengah bangsa yang gemar mengumandangkan nasionalisme, kita justru berhadapan dengan gejala paling rapuh dalam kehidupan bernegara, yakni menipisnya empati. Orang mudah tersinggung, tetapi sulit tersentuh. Sebuah kritik acapkali dianggap ancaman, sementara jeritan rakyat kecil sering tenggelam tanpa perhatian.

Sekalipun media sosial membuat setiap orang semakin mudah berbicara, berkomentar, bahkan menghakimi, namun orang semakin sulit mendengar dan memahami penderitaan sesama. Ruang publik menjadi riuh oleh suara-suara keras, namun miskin kepekaan sosial. Nasionalisme perlahan berhenti sebagai rasa kemanusiaan, lalu berubah menjadi slogan yang nyaring diucapkan, tetapi hampa dalam tindakan.

Karena itu, refleksi Hari Kebangkitan Nasional menjadi penting untuk dikembalikan pada ruh awalnya. Kebangkitan Indonesia tidak lahir dari kebencian atau hasrat saling menyingkirkan, melainkan dari empati. Awal abad ke-20, seorang dokter bernama Wahidin Sudirohusodo menyaksikan langsung kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, dan hilangnya martabat rakyat bumiputra akibat penjajahan.

Dari kegelisahan moral itulah muncul gagasan bahwa bangsa ini hanya bisa bangkit melalui pendidikan dan kesadaran bersama.

Sejarah mencatat, kebangkitan nasional pertama kali digerakkan bukan oleh politikus, melainkan oleh seorang dokter. Pesannya jelas, bahwa perubahan besar sering lahir bukan dari ambisi kekuasaan, tetapi dari kepedulian terhadap nasib manusia. Gagasan atau idealisme dokter Wahidin kemudian bertemu dengan semangat anak-anak muda STOVIA, seperti Soetomo, dan melahirkan Budi Utomo pada 1908.

Dalam pandangan Mohammad Hatta, kebangkitan nasional tumbuh dari kesadaran memperbaiki derajat rakyat, melalui ilmu pengetahuan, persatuan, dan martabat kemanusiaan. Artinya, sejak awal, kebangkitan nasional adalah gerakan moral. Gerakan panggilan untuk peduli terhadap sesama. Tanpa empati, nasionalisme hanya akan menjadi suara keras yang kehilangan jiwa.


Keberanian mendengar

Hari ini, lebih dari seabad kemudian, tantangan bangsa tentu berbeda. Kita tidak lagi menghadapi penjajahan fisik. Tetapi kita menghadapi ancaman yang tak kalah serius, yaitu krisis empati dalam kehidupan publik.

Kita menyaksikan bagaimana ruang sosial sering dipenuhi kemarahan dan saling curiga. Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi permusuhan. Kritik sering dianggap ancaman, bukan masukan. Bahkan, tidak jarang kekuasaan tampil arogan terhadap suara-suara yang mengingatkan tentang ketimpangan sosial, kerusakan lingkungan, atau penderitaan masyarakat kecil. Padahal, kekuasaan kehilangan makna ketika tidak lagi mampu mendengar.

Bangsa ini tentu membutuhkan stabilitas dan ketertiban. Namun, ketertiban tanpa keadilan hanya akan melahirkan jarak antara negara dan rakyatnya. Aparat dan pemegang kekuasaan harus menyadari bahwa kewibawaan sejati tidak dibangun melalui rasa takut, melainkan melalui kepercayaan publik.

Dalam konteks ini, kritik yang lahir dari kepedulian semestinya tidak dipandang sebagai ancaman negara. Kritik justru tanda bahwa masyarakat masih memiliki harapan terhadap bangsanya. Paling berbahaya, sesungguhnya bukan kritik, melainkan ketika rakyat mulai lelah berharap dan memilih diam.

Mohammad Hatta pernah mengingatkan bahwa "kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman, tetapi tidak jujur sulit diperbaiki". Kalimat itu terasa sangat relevan dalam kehidupan publik hari ini. Karena inti kebangkitan sesungguhnya adalah kejujuran moral. Sebuah sikap berani mengakui apa yang salah, mendengar apa yang perlu diperbaiki, dan tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyat.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar bahwa demokrasi bukan arena memelihara kebencian. Kebebasan berbicara tidak boleh berubah menjadi kebiasaan saling menghina. Sebab bangsa ini tidak akan tumbuh sehat jika ruang publik terus dipenuhi dendam sosial.

Kebangkitan nasional semestinya mengajarkan bahwa perubahan besar hanya mungkin terjadi ketika masyarakat memiliki rasa senasib. Ketika orang tidak hanya sibuk memenangkan kelompoknya sendiri, tetapi juga memikirkan nasib bersama.


Little winners

Dalam kehidupan berbangsa, kita sering terlalu mudah mengagumi mereka yang memiliki jabatan, pangkat, atau panggung kekuasaan. Sementara banyak orang yang diam-diam menjaga kehidupan sosial justru luput dari perhatian.

Padahal, bangsa ini bertahan bukan hanya karena kerja para elite, tetapi juga karena keberadaan orang-orang biasa yang setiap hari memenangkan pertarungan kecil demi menjaga harapan bersama.

Mereka adalah guru di daerah terpencil yang tetap mengajar dengan keterbatasan. Tenaga kesehatan yang melayani hingga pelosok desa. Relawan yang menanam pohon dan membersihkan sungai tanpa sorotan kamera. Anak-anak muda yang membuka ruang belajar gratis. Petani yang menjaga pangan lokal. Nelayan yang mempertahankan laut dari praktik merusak. Mereka adalah little winners bangsa ini.

Kemenangan mereka mungkin tidak tercatat dalam berita utama, tetapi dari tangan-tangan sederhana itulah Indonesia tetap bertahan. Karena bangsa besar sesungguhnya dibangun oleh kerja sunyi yang dilakukan terus-menerus.

Negara semestinya lebih peka mencatat dan memberi penghargaan kepada orang-orang seperti ini. Penghormatan jangan hanya diberikan kepada mereka yang memiliki posisi dan jabatan formal, tetapi juga kepada warga yang menyelamatkan manusia, menjaga lingkungan, merawat solidaritas sosial, dan menghadirkan harapan bagi masyarakat kecil. Sebab ukuran keberhasilan bangsa tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan menghargai kemanusiaan.

Filsuf Amerika Ralph Waldo Emerson pernah mengatakan bahwa tujuan hidup bukanlah menjadi sukses, melainkan menjadi berguna. Pesan itu terasa sangat penting di tengah zaman yang sering membuat orang lebih sibuk membangun citra daripada menghadirkan manfaat nyata.

Kita membutuhkan lebih banyak manusia yang memilih berguna bagi sesama, bukan sekadar terlihat hebat di hadapan publik.

 

Jangan kehilangan arah

Ikhwal paling berbahaya bagi sebuah bangsa sebenarnya bukan perbedaan pendapat. Karena demokrasi memang lahir dari keberagaman pandangan. Justru yang paling berbahaya adalah ketika masyarakat kehilangan kepedulian satu sama lain.

Ketika pejabat menjadi arogan terhadap kritik. Ketika aparat lupa bahwa kekuasaan seharusnya melindungi, bukan menakuti. Ketika masyarakat lebih sibuk menghina daripada membantu. Ketika orang pintar memilih diam demi kenyamanan pribadi. Di situlah perlahan bangsa kehilangan arah moralnya.

Sejarah banyak menunjukkan bahwa peradaban runtuh bukan karena serangan dari luar, tetapi karena rapuhnya empati di dalam dirinya sendiri.

Karena itu, refleksi Hari Kebangkitan Nasional semestinya menjadi ruang perenungan bersama. Bahwa kebangkitan hari ini bukan lagi tentang mengangkat senjata melawan penjajah, tetapi melawan kemalasan berpikir, egoisme sosial, dan hilangnya rasa peduli terhadap nasib sesama.

Bangsa ini membutuhkan orang-orang tanpa pamrih. Mereka yang bekerja tanpa harus terus dipuji. Mereka yang hadir menyapa rakyat dengan ketulusan. Mereka yang tidak sibuk membangun citra diri, tetapi diam-diam membangun harapan bagi banyak orang.

Sebagaimana yang dicontohkan Wahidin Sudirohusodo lebih dari satu abad lalu, perubahan besar selalu dimulai dari hati yang tidak tega melihat rakyatnya menderita. Maka, rasanya, di tengah zaman yang semakin bising ini, kebangkitan yang paling dibutuhkan bangsa bukanlah suara yang paling lantang, melainkan hati yang tetap mampu merasakan penderitaan sesamanya.

 

*) Dr Suko Widodo, akademisi Universitas Airlangga dan Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jawa Timur



Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026