Surabaya (ANTARA) - Hari Kebangkitan Nasional sesungguhnya bukan sekadar peringatan lahirnya Boedi Oetomo. Lebih dari itu, ia menandai momentum ketika kebangkitan bangsa mulai tumbuh dari ruang pendidikan, dari kaum terpelajar, dan dari dunia kedokteran. Sejarah mencatat, embrio kesadaran nasional Indonesia lahir dari ruang-ruang belajar STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), tempat para mahasiswa bumiputra mulai menyadari bahwa penjajahan bukan hanya persoalan politik, tetapi juga persoalan keterbelakangan ilmu pengetahuan, kesehatan, dan martabat kemanusiaan.
STOVIA sesungguhnya bukan sekadar sekolah kedokteran. Ia adalah laboratorium lahirnya intelektualisme modern Indonesia. Dari ruang pendidikan itulah lahir tokoh-tokoh besar kebangkitan nasional, seperti Dr. Soetomo, Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Radjiman Wedyodiningrat, dan Dr. Abdul Rivai. Mereka bukan hanya dokter yang menyembuhkan pasien, tetapi intelektual yang berusaha menyembuhkan luka bangsa dari keterbelakangan, ketidakadilan, dan penjajahan. Mereka memahami bahwa kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kemerdekaan adalah satu kesatuan peradaban.
Hari Kebangkitan Nasional tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan yang romantik terhadap masa lalu. Ia perlu dimaknai sebagai momentum menghadirkan pusat-pusat kebangkitan baru yang relevan dengan tantangan zaman. Jika dahulu STOVIA menjadi simbol kebangkitan melalui pendidikan kedokteran modern, maka hari ini Indonesia membutuhkan bentuk kebangkitan baru melalui kedokteran berbasis sains, teknologi, dan inovasi.
Romantisme Historis
Di titik itulah narasi “Dari STOVIA ke ITS” menemukan relevansinya. Jika pada awal abad ke-20 STOVIA melahirkan dokter-dokter pejuang yang membangun kesadaran kebangsaan, maka abad ke-21 membutuhkan lahirnya dokter-inovator, dokter-teknolog, dan ilmuwan kesehatan masa depan yang mampu menjawab kompleksitas tantangan global. Sebab persoalan kesehatan hari ini tidak lagi sekadar soal keterbatasan tenaga medis, tetapi juga menyangkut disrupsi teknologi, ledakan data kesehatan, ancaman pandemi, ketimpangan layanan kesehatan, hingga kebutuhan kemandirian teknologi medis nasional.
Dalam konteks itu, kedokteran masa depan tidak cukup hanya melahirkan dokter yang kuat secara klinis, tetapi juga dokter yang mampu berdialog dengan teknologi, data, sistem digital, dan inovasi multidisiplin. Masa depan layanan kesehatan akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan artificial intelligence, big data, robotika medis, rekayasa biomedik, Internet of Things, hingga sistem kesehatan berbasis presisi. Rumah sakit masa depan bukan lagi sekadar tempat berobat, tetapi pusat integrasi data, teknologi, riset, dan inovasi kesehatan.
Lantaran itu, romantisme historis STOVIA menemukan relevansinya pada kampus-kampus teknologi seperti ITS. Sebagai kampus berbasis teknologi, ITS memiliki modal multidisiplin yang sangat kuat untuk menghadirkan paradigma baru pendidikan kedokteran di Indonesia. ITS memiliki kekuatan pada bidang kecerdasan artifisial, robotika, rekayasa biomedik, sistem informasi kesehatan, instrumentasi medis, rekayasa material, hingga analisis data. Ketika seluruh kekuatan itu dipertemukan dengan ilmu kedokteran, maka yang lahir bukan sekadar fakultas kedokteran konvensional, tetapi potensi lahirnya ekosistem kedokteran berbasis teknologi.
Menariknya, jejak historis kedokteran dalam perjalanan ITS sesungguhnya bukanlah sesuatu yang benar-benar asing. Salah satu pendiri ITS Surabaya adalah seorang dokter, yakni dr. Angka Nitisastro. Kehadiran beliau menunjukkan bahwa sejak awal, semangat pendirian ITS tidak hanya dibangun oleh kalangan insinyur dan teknolog, tetapi juga oleh golongan intelektual lintas disiplin yang memiliki visi besar tentang kemajuan bangsa melalui ilmu pengetahuan. Karena itu, pengembangan kedokteran berbasis teknologi di ITS sejatinya bukan sekadar membangun disiplin baru, melainkan juga menghadirkan kembali jejak historis dan spirit pendiri ITS itu sendiri.
Dengan demikian, “Dari STOVIA ke ITS” bukan sekadar metafora historis, melainkan narasi kesinambungan kebangkitan bangsa. Jika dahulu STOVIA melahirkan kesadaran bahwa bangsa ini harus merdeka secara politik, maka kebangkitan kedokteran berbasis teknologi hari ini harus melahirkan kesadaran baru bahwa Indonesia juga harus berdaulat di bidang kesehatan, riset, dan teknologi medis. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun rumah sakit, tetapi bangsa yang mampu membangun ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatannya sendiri.
Kedokteran Teknologi
Dunia kesehatan saat ini sedang mengalami transformasi besar. Artificial intelligence mulai membantu diagnosis penyakit. Internet of Things memungkinkan pemantauan pasien secara real time. Robotik berkembang dalam operasi presisi tinggi. Sementara big data dan machine learning digunakan untuk memprediksi pola penyebaran penyakit, bahkan rekayasa biomedik kini menjadi salah satu frontier baru ilmu pengetahuan dunia.
Pendidikan kedokteran masa depan tidak lagi cukup dibangun dengan pendekatan klinis konvensional semata. Dokter masa depan harus mampu berdialog dengan teknologi, data, rekayasa sistem, dan inovasi digital. Masa depan layanan kesehatan bukan hanya rumah sakit besar, tetapi ekosistem kesehatan terintegrasi yang berbasis teknologi dan pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, ITS memiliki posisi yang unik. Sebagai perguruan tinggi teknologi, ITS memiliki kekuatan pada bidang rekayasa biomedik, kecerdasan artifisial, sistem informasi kesehatan, robotika, teknologi instrumentasi, hingga rekayasa material medis. Jika kekuatan multidisiplin ini dikonsolidasikan secara serius dalam pengembangan pendidikan kedokteran, maka ITS berpotensi menghadirkan model baru pendidikan dokter berbasis teknologi di Indonesia.
Namun kedokteran berbasis teknologi bukan berarti menghilangkan sentuhan kemanusiaan dalam dunia medis. Justru teknologi harus menjadi instrumen untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, presisi, terjangkau, dan lebih merata. Sebab pada akhirnya, esensi utama ilmu kedokteran tetaplah kemanusiaan.
Rumah Sakit Pendidikan
Kebangkitan kedokteran berbasis teknologi tentu tidak cukup berhenti pada pendirian fakultas atau program studi. Ia membutuhkan ekosistem pembelajaran yang utuh. Oleh karenanya, kehadiran rumah sakit pendidikan menjadi elemen yang sangat strategis. Dalam konteks itulah, kami merancang konsep rumah sakit pendidikan berkelas dunia, bertajuk “dr. Angka Nitisastro Teaching Hospital: Integrating Innovation Excellence and Medical Heritage to Build a Technology-driven Healthcare Hub for Indonesia.”
Rumah sakit pendidikan bukan sekadar tempat praktik mahasiswa kedokteran, melainkan laboratorium kehidupan yang mengintegrasikan pendidikan, riset, inovasi, dan pelayanan masyarakat dalam satu ekosistem. Kehadirannya juga menjadi bagian penting dari penguatan Academic Health System (AHS), yang menghubungkan perguruan tinggi, rumah sakit, dan pemerintah dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Di tengah tren global technology-driven medicine, dunia kesehatan bergerak menuju integrasi kedokteran dengan artificial intelligence, data science, biomedical engineering, genomics, dan digital health. Untuk itu, pengembangan rumah sakit berbasis teknologi menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan kelembagaan.
Bagi ITS, pendirian RS Pendidikan bukan hanya fasilitas layanan kesehatan, tetapi clinical platform yang mempertemukan ilmu kedokteran, rekayasa biomedik, AI kesehatan, robotika medis, alat kesehatan, hingga riset dan industri dalam satu ruang kolaborasi nyata. Dari ruang itulah inovasi kesehatan ITS tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dihilirisasi menjadi solusi nyata bagi masyarakat. RS ITS juga diarahkan sebagai smart hospital sekaligus sandboxing innovation, yakni ruang uji pengembangan teknologi dan alat kesehatan nasional berbasis standar klinis modern.
Lebih dari itu, pembangunan RS ITS harus dibaca sebagai bagian dari agenda besar transformasi institusi menuju technological university yang semakin tangguh, berdampak, dan mendunia. Rumah sakit ini diharapkan menjadi pusat pembentukan dokter, tenaga kesehatan, peneliti, dan engineer kesehatan yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan masa depan.
Jika dahulu STOVIA melahirkan kebangkitan nasional melalui pendidikan kedokteran, maka ITS memiliki peluang menghadirkan kebangkitan baru melalui kedokteran berbasis teknologi. Sebuah ikhtiar membangun masa depan kesehatan Indonesia yang lebih modern, mandiri, dan berdaulat dalam ilmu pengetahuan. Pada akhirnya, kebangkitan bangsa tak pernah lahir dari romantisme masa lalu semata, tetapi dari keberanian membangun masa depan. Di tengah derasnya disrupsi teknologi global hari ini, sangat boleh jadi bentuk baru kebangkitan itu sedang tumbuh di kampus-kampus teknologi seperti ITS. Selamat Harkitnas ke-118, 20 Mei 2026!
*) Penulis adalah Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.