Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto mengajak para mahasiswa terus mengasah bakat, sehingga tak memiliki ketergantungan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI).

Yovie dalam paparannya di acara Glow Innovation Talks di Auditorium Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu mengatakan, bakat yang terus ditingkatkan akan memunculkan sebuah kompetensi individu.

"Kompetensi skill memiliki lifetime yang lebih panjang, jangan hanya mengandalkan AI karena teman-teman harus terlatih," kata Yovie.

Kemampuan yang lahir dari sebuah bakat diyakininya mampu menjadikan para mahasiswa sebagai sosok bijak dalam memilah pemanfaatan teknologi, misalnya untuk membuat sebuah karya.

Dalam proses produksi karya kreator perlu mengetahui terdapat batasan yang tidak boleh dilanggar karena menyangkut kekayaan intelektual di dalam data latih AI.

Pada kesempatan itu, ia turut membagikan pengalamannya tentang bagaimana perkembangan proses produksi sebuah karya musik mulai dari zaman penggunaan kaset pita, compact disk atau cd, hingga digital. 

Pada era kaset pita, pembuatan sebuah karya musik terbilang lebih kompleks, sebab jika ada satu kesalahan maka seluruh proses akan diulangi dari awal.

Oleh karena itu, tak heran jika para musisi era 70-80an punya kemampuan yang mumpuni lantaran kerap kali berlatih banyak hal, seperti tangga nada sebelum masuk ke dalam dapur produksi rekaman. 

"Lalu maju lagi terdapat teknologi cd itu lebih mudah, ketika itu ada 24 track, kemudian teknologi sekarang sangat canggih karena lahirnya AI dan sebagainya kalau fals langsung diedit," ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bukan seorang yang anti terhadap penggunaan AI tetapi perlu memanfaatkan keberadaan teknologi secara bijak. 

Yovie mengajak para mahasiswa untuk menggunakan AI sebagai media menghadirkan kebermanfaatan bagi manusia lainnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Inovasi dan Transfer Teknologi Universitas Brawijaya Dias Satria menyatakan munculnya AI bukan dalam rangka menggantikan peran manusia, tetapi melengkapi sebuah proses, seperti riset dan pengembangan.

Dia menyampaikan sebuah karya akan memiliki nilai yang lebih tinggi ketika prosesnya dilakukan secara natural dan organik.

"Pasar sudah bisa membedakan produk mana yang sepenuhnya AI, setengah menggunakan AI, dan minim menggunakan AI. Tadi juga Mas Yovie menyampaikan kalau terlalu AI nilai tambahnya sangat rendah," kata dia.

Dia menuturkan Universitas Brawijaya turut menggunakan AI untuk melakukan pengembangan dalam berbagai bidang.

"UB sudah memiliki AI Center dan di sana kami menggunakannya untuk mengembangkan (inovasi) yang kompleks, seperti kedokteran, pertanian dan banyak aspek lain," tuturnya.  



Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026