Sering kali, yang paling dibutuhkan bukan sekadar produk, tetapi juga  pemahaman dan rasa ditemani

Surabaya (ANTARA) - Mom Uung menginisiasi gerakan sosial #BersamaMomUung untuk mendukung ibu menyusui di Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, melalui edukasi, pendampingan, serta layanan kesehatan guna mencegah stunting sejak dini.

“Jujur, aku ingin Mom Uung itu nggak cuma hadir lewat produk saja. Kami ingin benar-benar datang, ngobrol langsung, dan tahu solusi apa yang sebenarnya dibutuhkan ibu-ibu di sini," kata Founder Mom Uung, Uung Victoria Finky dalam keterangan diterima di Surabaya, Kamis.

Menurutnya, yang dibutuhkan ibu itu bukan hanya satu hal, tapi akses kesehatan yang menyeluruh, mulai dari edukasi, pendampingan, hingga bantuan nyata yang bisa diterapkan sehari-hari.

"Sering kali, yang paling dibutuhkan bukan sekadar produk, tetapi juga  pemahaman dan rasa ditemani,” ujarnya.

Gerakan tersebut melibatkan tim dokter, bidan, serta CHeNECE Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, dengan menghadirkan posko kesehatan untuk skrining ibu dan anak sekaligus edukasi terkait stunting, gizi, serta praktik menyusui yang tepat.

Temuan lapangan menunjukkan masih rendahnya pemahaman ibu terkait pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Banyak bayi di bawah enam bulan masih diberikan tambahan seperti air tajin, air mineral, hingga pisang halus akibat kuatnya mitos lokal dan keterbatasan akses informasi.

Selain itu, pola pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) juga belum optimal. Pada usia sepuluh bulan, anak seharusnya mulai mendapatkan komposisi seimbang antara ASI dan MPASI, masing-masing sekitar 50 persen, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A. yang terlibat dalam kegiatan tersebut menemukan sebagian besar anak di Pulau Kangean mengalami stunting akibat pola nutrisi yang belum tepat.

“Fokus utama saya saat skrining ini adalah memastikan tumbuh kembang bayi berjalan optimal. Tapi sayangnya, hasil pemeriksaan nunjukin rata-rata anak di sini mengalami stunting," ujarnya.

Ini jadi pengingat penting buat orang tua supaya lebih paham tanda bayi menyusu dengan benar dan rajin pantau berat badannya. Kalau pemahaman nutrisinya sudah oke dan rutin dicek, kita bisa ambil tindakan lebih awal supaya ibu nggak perlu merasa khawatir berlebihan lagi.

Selain skrining, tenaga medis juga memberikan edukasi teknik menyusui, termasuk direct breastfeeding (DBF) atau menyusui langsung dari payudara ibu, serta penggunaan pompa ASI bagi ibu yang mengalami kendala produksi.

Dokter dr. Ikhsanuddin Qoth’i menekankan pentingnya kondisi psikologis ibu dalam mendukung kelancaran produksi ASI, sekaligus mengingatkan agar tidak memberikan tambahan selain ASI pada bayi di bawah enam bulan.

“Jangan lupa kalau kondisi ibu itu pengaruhnya besar sekali. Kalau Mommy merasa tenang, didukung, dan cukup istirahat, produksi ASI biasanya akan jauh lebih optimal," ujarnya.

Melalui gerakan tersebut, Mom Uung berharap dapat memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan bagi ibu di berbagai daerah, sehingga praktik menyusui dan pemenuhan nutrisi anak dapat berjalan optimal serta mencegah stunting sejak dini.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Astrid Faidlatul Habibah

COPYRIGHT © ANTARA 2026