Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru mengungkapkan dugaan pencurian alat pemantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di Stasiun Pemantauan Kopirejo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur telah dilaporkan ke kepolisian setempat.

"Laporan ke polisi sudah dilakukan, itu (yang dicuri) alat untuk melakukan monitoring aktivitas yang ada di Gunung Semeru," kata Petugas Pengamat PGA Semeru Liswanto dikonfirmasi dari Malang, Jawa Timur, Jumat.

Liswanto menyatakan dugaan pencurian terjadi pada 16 April 2026. Ketika itu, alat tersebut diketahui dalam posisi tidak aktif sehingga data tentang perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru tidak bisa diterima oleh petugas pemantau.

Setelahnya, petugas pun mengecek ke Stasiun Pemantau Kopirejo dan mendapati sejumlah komponen perangkat keras serta instalasi alat pemantau yang di dalamnya terdiri atas 12 unit ACCU atau akumulator, 12 unit solar panel, dua unit regulator solar panel, satu unit alat DC to DC converter, kabel grounding, dan stick grounding telah hilang.

Meski demikian, ia menyampaikan bahwa pelaksanaan pengawasan terhadap perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih tetap berjalan sampai sekarang dengan mengandalkan mekanisme pengawasan yang dilaksanakan oleh stasiun pemantauan di lokasi lainnya.

"(Pemantauan) tidak berpengaruh, karena masih bisa dari stasiun yang lain. Sejauh ini masih berjalan," kata Liswanto.

Hilangnya alat pemantau aktivitas vulkanik Gunung Semeru bukan yang kali pertama. Sebab, pada 2024 kejadian serupa juga pernah terjadi, tepatnya di Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Saat itu terdapat komponen alat pemantau berupa empat unit akumulator yang raib dicuri.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Humas Polres Malang AKP Bambang Subinanjar mengatakan dugaan pencurian telah dilaporkan ke pihak Kepolisian Sektor Wajak dan dalam proses tindak lanjut.

"Masih ada yang perlu dilengkapi untuk dituangkan ke dalam laporan polisi (LP)," ujar dia.

 

 



Pewarta: Ananto Pradana
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026