Surabaya (ANTARA) - Bayangkan sebuah kota besar dengan 3 juta penduduk, industri dan perniagaan yang terus tumbuh, dan konsumsi air rumah tangga yang tinggi, namun seluruh sistem kehidupannya lebih dari 90% bergantung pada satu sungai. Itulah Surabaya hari ini.
Ini bukan sekadar ketergantungan. Ini adalah satu titik kegagalan dalam skala kota. Secara angka, Surabaya masih terlihat “aman”. Perumda Air Minum (PAM) Surya Sembada mendapat pasokan air baku mendekati angka 400 juta meter kubik per tahun, sekitar 93% mengandalkan Kali Surabaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih 650ribu lebih sambungan. Sisanya mendapat pasokan dari sumber mata air dari Umbulan dan beberapa mata air di wilayah Pandaan. Meski kebocoran air tak berekening (Non Revenue Water/NRW) masih tergolong tinggi di kisaran angka 31% (rata-rata NRW nasional 33%).
Namun alam seringkali berkehendak lain, debit air sungai mengalami tekanan serius. Bahkan pada 2024, tercatat debit inflow Bendungan Sutami, penyangga utama Sungai Brantas, mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir. Ketika debit turun, masalah tidak berhenti di kuantitas, namun kualitas air justru ikut memburuk. Kandungan amonia, nitrit, dan bahan pencemar organik meningkat. Kekeruhan melonjak drastis saat musim hujan, sementara saat kemarau, konsentrasi pencemar semakin tinggi. Air masih ada, tetapi semakin mahal karena semakin sulit diolah.
Krisis yang Mengalir dari Hulu ke Hilir; masalah Surabaya bukan hanya berasal dari kota ini. Ia dimulai dari hulu. Sungai Brantas mengalir melewati lebih dari 20 wilayah dan menopang industri, pertanian, hingga permukiman padat. Namun di saat yang sama, sungai ini juga menjadi tempat pembuangan limbah—baik domestik maupun industri, bahkan pertanian dengan penggunaan pupuk yang berlebihan. Hasilnya bisa ditebak kondisi air di pintu air Jagir, titik akhir pengambilan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Ngagel adalah air yang sudah “dipakai bersama”. Dalam beberapa studi kasus, kualitas air Sungai Surabaya bahkan dinilai telah mengalami pencemaran dan tidak sepenuhnya layak sebagai air baku tanpa pengolahan intensif . Ironisnya, justru air inilah yang menjadi tulang punggung kota.
Konsumsi Tinggi, Tekanan Berlipat; Jika sisi suplai penuh tekanan, sisi permintaan justru semakin agresif. Rata-rata konsumsi air warga Surabaya mencapai 195–200 liter per orang per hari, jauh diatas rata-rata nasional 150 liter/orang/hari. Sebagai catatan, SNI penggunaan air perkotaan dengan penduduk diatas 1 juta jiwa adalah 150-200 liter per orang per hari. Angka ini yang mencerminkan dua hal, tingkat layanan yang relatif baik sekaligus tekanan sistem yang semakin besar Dalam bahasa sederhana, kota ini meski bergantung pada satu sumber, tetapi juga menggunakannya secara intensif. Namun ketika konsumsi tinggi bertemu dengan sumber terbatas, yang terjadi bukan keseimbangan—melainkan tekanan sistemik.
Perusahaan Air Minum di Tengah Dilema; pada titik ini, PAM Surya Sembada berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka harus menjamin layanan air untuk hampir seluruh kota. Di sisi lain, mereka harus mengolah air baku dengan kualitas yang terus menurun. IPA Karangpilang dan Ngagel dirancang untuk kondisi “normal”. Meski IPA Karangpilang 4 telah selesai dibangun dengan menggunakan proses teknologi yang lebih efisien, namun tetap harus berhadapan dengan air sungai yang semakin tercemar secara fisika, kimia dan biologis. Artinya, biaya meningkat. Risiko meningkat. Kompleksitas meningkat. Dan semua itu terjadi tanpa perubahan signifikan pada sumber air utama.
Ketergantungan yang Terlalu Dalam; 93 persen pasokan air Surabaya berasal dari Brantas. Sisanya berasal dari sumber alternatif seperti Umbulan, yang kontribusinya relatif kecil. Dengan komposisi seperti ini, Surabaya praktis belum memiliki diversifikasi sumber air yang memadai. Jika terjadi gangguan besar di Brantas, baik karena kekeringan ekstrem, maupun pencemaran berat, sebagaimana halnya Sungai Cisadane yang “pingsan” di awal tahun 2026, diduga disebabkan 2,5 ton racun pembasmi hama, dampaknya bahkan meluas hingga radius 22,5 kilometer yang meliputi Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Maka kota Surabaya pun memiliki ruang adaptasi yang sangat terbatas. Ini bukan sekadar risiko teknis. Ini adalah risiko strategis kota.
Masalah yang Lebih Dalam: Sistem yang Tidak Terintegrasi; Apa yang terjadi di Surabaya sebenarnya bukanlah kasus unik. Ini adalah gejala dari cara kita mengelola air yang terjadi hamper diseluruh wialyah pelayanan air minum (SPAM). Kita masih berpikir sektoral, sungai diurus sebagai isu lingkungan, distribusi air sebagai isu teknis, konsumsi dan tarif sebagai isu sosial, kebijakan sebagai isu administratif. Padahal, semuanya adalah satu sistem yang saling terkait. Kerangka ketahanan air perkotaan tidak bisa dipahami tanpa menghubungkan empat hal: keterbatasan hidrologi, dinamika sosial-ekonomi permintaan, kinerja utilitas (PAM), serta sirkularitas air (daur ulang limbah domestik-termasuk penampungan air hujan). Selama keempatnya tidak terintegrasi, kita hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Air Limbah, Potensi yang Diabaikan. Di tengah tekanan ini, ada satu sumber yang hampir tidak dimanfaatkan secara optimal: air limbah rumah tangga. Setiap hari, kota menghasilkan jutaan meter kubik air limbah domestik. Sebagian besar dibuang, bukan dimanfaatkan kembali. Padahal, di banyak kota dunia, air limbah domestik dan industri telah menjadi sumber air kedua. Surabaya belum sampai ke sana. Dan selama paradigma ini tidak berubah, kota akan terus bergantung pada satu sumber yang sama, tanpa cadangan. Berdasarkan data 2022 dari populasi penduduk dunia sekitar 8 miliar memproduksi rata-rata 33,4 m3/kapita/tahun dan 54,7% dari limbah cair rumah tangga tersebut diolah kembali (Manzoor Qadir et al., 2024).
Surabaya adalah Peringatan; Surabaya bukan hanya kota. Ia adalah peringatan. Ia menunjukkan bagaimana sebuah kota modern bisa berdiri di atas sistem yang rapuh tanpa disadari.
Air masih mengalir. Layanan masih berjalan. Krisis belum terjadi.
Namun semua indikator menunjukkan satu arah: tekanan meningkat, sementara kapasitas adaptasi belum cukup.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Ditunda. Kita perlu jujur pada satu hal: ketahanan air bukan soal apakah krisis akan terjadi, tetapi kapan. Dan ketika itu terjadi, tidak ada solusi instan. Tidak ada sungai cadangan yang bisa tiba-tiba muncul. Tidak ada infrastruktur yang bisa dibangun dalam semalam.
Yang ada hanyalah pilihan yang kita buat hari ini.
Apakah kita akan terus menggantungkan kota pada satu sumber?
Atau mulai membangun sistem yang lebih beragam dan tangguh (resilience), efisien, dan sirkular?
Satu Sungai, Satu Pelajaran. Surabaya dan kalinya mengajarkan satu pelajaran penting: ketergantungan adalah risiko, terutama jika tidak disertai strategi.
Ketahanan air tidak dibangun saat krisis datang. Ia dibangun jauh sebelum itu, melalui integrasi manajemen sumber daya air, efisiensi, dan keberanian untuk berubah.
Karena pada akhirnya, masa depan kota tidak ditentukan oleh seberapa besar sungainya, melainkan seberapa cerdas kita mengelolanya.
*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusaka Air Indonesia (Pusat Studi dan Analisa Kebijakan Air Indonesia)
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026