UMSURA relevan untuk membangun kolaborasi dengan negara, dalam konteks ini bersama KP2MI
Surabaya (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menginisiasi Migrant Center setelah menjalin nota kesepahaman dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) guna memperkuat ekosistem pekerja migran terampil dan berkualitas di tingkat global.
Penandatanganan MoU dan perjanjian kerja sama (PKS) antara KP2MI dan 10 perguruan tinggi dilakukan di Jakarta, Kamis sebagai bagian dari upaya pemerintah menyiapkan ekosistem pekerja migran secara menyeluruh.
Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Digitalisasi UMSURA, Radius Setiyawan, menyampaikan bahwa kampus memiliki posisi strategis dalam mendukung kolaborasi tersebut.
Menurutnya, UMSURA memiliki sejumlah program studi yang selaras dengan kebutuhan pasar global, terutama di sektor kesehatan seperti keperawatan dan kebidanan, serta pengembangan bidang teknik untuk menjawab kebutuhan industri internasional.
“Hal ini yang menjadikan UMSURA relevan untuk membangun kolaborasi dengan negara, dalam konteks ini bersama KP2MI,” ujarnya dalam keterangan diterima di Surabaya.
Radius menambahkan, diaspora alumni UMSURA telah tersebar di berbagai negara. Melalui inisiasi Migrant Center, kampus berupaya menyiapkan lulusan secara lebih matang sejak awal guna meningkatkan kualitas tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri.
“Sebaran tenaga-tenaga ahli ke berbagai negara merupakan bagian dari diaspora produktif yang sangat dibutuhkan bangsa ini,” tegasnya.
Ia menekankan, internasionalisasi yang diusung UMSURA tidak hanya terbatas pada mobilitas mahasiswa, tetapi juga komitmen mencetak lulusan yang memiliki daya saing global.
“Baik di bidang kesehatan, pendidikan, teknik, maupun sektor lainnya, UMSURA berkomitmen untuk mencetak lulusan yang siap berkiprah di tingkat global,” katanya.
Menteri P2MI Mukhtarudin mengatakan pihaknya melaksanakan ada 11 MoU dan enam PKS dengan mitra-mitra strategis daripada KP2MI yang semuanya adalah dari lembaga pendidikan perguruan tinggi.
Mukhtarudin menjelaskan, pemerintah berfokus pada penyiapan sumber daya manusia (SDM), proses penempatan, hingga pemberdayaan pekerja migran.
Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam mencetak SDM yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
“KP2MI tidak punya instrumen untuk mencetak itu, yang punya instrumen adalah perguruan tinggi. Kami sebagai regulator, sebagai fasilitator akan menjembatani, akan link and match apa kebutuhan global, kompetensi apa yang dibutuhkan, bahasa seperti apa yang dibutuhkan dengan perguruan tinggi perguruan tinggi yang menyiapkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja sama ini merupakan implementasi kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam meningkatkan kualitas SDM nasional.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026