Surabaya (ANTARA) - Guru Besar Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Prof Dr Mundakir, SKep, Ns, MKep menyoroti meningkatnya ancaman masalah psikososial di masyarakat yang kerap tidak terdeteksi dan dianggap sepele.

“Psikososial itu adalah tekanan jiwa yang dialami masyarakat. Bentuknya bisa depresi, stres, merasa sendiri, mudah marah dan lain-lain. Masalah itu sebenarnya banyak di masyarakat, namun tidak terdeteksi atau tidak dianggap serius,” ujarnya usai dikukuhkan sebagai guru besar di kampus setempat, Kamis.

Ia menjelaskan, masalah psikososial tidak selalu berkaitan dengan gangguan jiwa berat, melainkan bisa juga tekanan mental sehari-hari yang dialami masyarakat seperti stres, depresi, kesepian, hingga emosi yang tidak terkendali.

Menurut dia, dampak dari persoalan psikososial yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi tindakan ekstrem di masyarakat, termasuk kekerasan hingga pembunuhan.

“Kita lihat masalah sedikit bisa pembunuhan. Itu adalah masalah psikososial yang sudah lama terpendam. Kalau tidak dicegah dan diantisipasi dari awal, maka kejadian tawuran, permusuhan, termasuk pembunuhan akan semakin sering,” kata pria yang juga Rektor Umsura tersebut.

Karena itu, ia mengajak tenaga kesehatan untuk tidak hanya berfokus pada aspek fisik atau biomedis pasien, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis dan sosial.


“Dalam memberikan layanan jangan hanya ditanya mana yang sakit, tetapi juga bagaimana perasaannya, apakah bisa tidur nyenyak, bagaimana nafsu makannya, bagaimana hubungan dengan keluarga dan tetangga. Itu penting karena esensi sehat adalah holistik,” katanya.

Ia menambahkan, konsep sehat mencakup kondisi fisik, psikologis, sosial, budaya, dan spiritual secara menyeluruh.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Mundakir juga memaparkan hasil riset terkait kondisi psikologis pekerja migran Indonesia, khususnya perawat di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah.

"Kami menemukan sebagian perawat migran diperlakukan tidak adil. Ada yang merasa kalah karena faktor bahasa, budaya, atau karakter yang dianggap terlalu lembut dibanding tenaga kesehatan lain," ujarnya.

Penelitian itu dilakukan selama enam bulan hingga satu tahun melalui survei yang melibatkan perawat migran di Jepang, negara-negara Timur Tengah, dan sejumlah negara Asia lainnya.

“Fenomena ini belum banyak diungkap. Padahal masalah psikologis pada pekerja migran cukup besar dan perlu perhatian,” katanya.

Sementara itu, Ketua Senat Umsura Prof Dr dr Sukadiono, MM optimistis jumlah guru besar di lingkungan kampus akan terus meningkat.

“Alhamdulillah tiap tahun kita ada guru besar yang mendapat SK dari Menteri Pendidikan Tinggi Saintek. Capaian ini jangan berhenti sampai di sini. Kita ingin dosen-dosen mengejar jabatan fungsional akademiknya,” ujarnya.

Ia menyebut Umsura memiliki banyak dosen dengan jabatan lektor kepala yang berpotensi menjadi guru besar.

Ia memperkirakan tahun ini akan ada tambahan dua hingga tiga guru besar, sedangkan tahun depan ditargetkan sedikitnya lima dosen meraih jabatan profesor.

“Dengan jumlah doktor yang cukup banyak, sekitar 40 persen dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya sudah bergelar doktor, saya kira tiap tahun minimal ada tiga orang yang bisa dikukuhkan menjadi guru besar,” tuturnya.

Untuk mendukung percepatan tersebut, Umsura menyiapkan pendampingan publikasi ilmiah melalui lembaga pengembangan publikasi dan jurnal yang bekerja sama dengan biro sumber daya manusia (SDM).



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026