Madiun (ANTARA) - Pemerintah Kota Madiun, Jawa Timur berhasil menurunkan luasan kawasan permukiman kumuh di wilayah setempat dalam upaya mewujudkan peningkatan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun dalam keterangannya mengatakan bahwa pengentasan kawasan kumuh mendapat perhatian tersendiri dari Pemerintah Kota Madiun.
"Melalui pemanfaatan APBD yang tepat sasaran serta upaya kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan kementerian terkait pemkot berhasil menurunkan luasan kawasan kumuh dari 211,11 hektare menjadi 153,53 hektare di tahun 2025," ujarnya di Madiun, Rabu.
Atas keberhasilan tersebut Pemerintah Kota Madiun mendapatkan predikat Terbaik kategori Kontribusi APBD untuk Penanganan Permukiman Kumuh Tahun Anggaran 2025 dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Provinsi Jawa Timur.
Setidaknya terdapat lima kawasan kumuh di Kota Madiun dapat dientaskan seratus persen hingga tahun 2025.
Kelima kawasan kumuh tersebut terdapat di Kelurahan Ngegong seluas 8,51 hektare, Kelurahan Winongo II seluas 6,74 hektare, Kelurahan Kelun seluas 4,37 hektare, Kelurahan Winongo I seluas 3,74 hektare, dan Kelurahan Pilangbango I seluas 1,44 hektare.
"Predikat terbaik dari Pemprov Jatim tersebut menjadi pelecut semangat di awal tahun 2026," katanya.
Seperti diketahui, permukiman kumuh adalah permukiman tidak layak huni karena ketidakberaturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta prasarana dan sarana yang tidak memenuhi syarat.
Karakteristiknya adalah kepadatan bangunan tinggi, jalan sempit dan berliku, minim drainase, sampah berserakan, dan kualitas rumah permanen rendah yang biasanya menggunakan seng atau asbes.
Kondisi tersebut disebabkan karena urbanisasi cepat, kemiskinan, pengangguran, kurangnya tata perencanaan tata kota, dan ketidakmampuan masyarakat.
Untuk itu, Pemkot Madiun terus berupaya menurunkan secara bertahap kawasan kumuh di wilayahnya guna meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat yang diharapkan juga membawa dampak ekonomi yang positif.
Pewarta: Louis Rika StevaniEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026