Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengukuhkan empat guru besar di gedung Auditorium kampus setempat, Kamis, sehingga secara keseluruhan, universitas yang berada di Jawa Timur itu memiliki 101 profesor.
"Pengukuhan itu menjadi momen bersejarah dalam perjalanan Unej karena setelah menjalani usia enam dekade lebih, jumlah guru besar tembus 100 orang, tepatnya 101 orang profesor," kata Rektor Iwan dalam sambutan pengukuhan di Auditorium Unej.
Empat guru besar baru yang dikukuhkan adalah Prof. Kiswara Agung Santoso yang merupakan guru besar algoritma pemrograman Program Studi Matematika Fakultas MIPA, dan Prof. Khairul Anam yang merupakan guru besar bidang rekayasa instrumentasi dan kontrol Program Studi Teknik Elektro FT.
Kemudian, Prof. Evita Soliha Hani yang merupakan guru besar bidang Ekonomi Sumber Daya Manusia di Lingkungan Pertanian Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian dan Prof. Bambang Marhaenanto yang merupakan guru besar bidang Otomasi dan Informatika Pertanian Program Studi Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian.
"Saya bersyukur ada tambahan guru besar di Unej karena pada 2020 jumlah guru besar hanya 51 orang, maka kini pada 2026 berjumlah menjadi 101 orang," katanya.
Namun pihaknya mengingatkan jika jumlah profesor Unej itu belum mencapai target karena jika menilik angka ideal, maka seharusnya memiliki 150 guru besar atau sepuluh persen dari total jumlah dosen yang ada.
“Kami terus mendorong dosen untuk mencapai jabatan guru besar melalui beragam program, seperti hibah riset maupun insentif penulisan di jurnal bereputasi. Namun tentu saja kesemuanya dilaksanakan sesuai aturan yang berlaku dan tidak sekedar memenuhi kuantitas,” katanya.
Ia berharap keberadaan profesor baru memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, melalui pemikiran visioner yang mampu menghasilkan beragam inovasi dan solusi berbagai permasalahan.
"Pencapaian jabatan guru besar bukan hanya prestasi pribadi, namun juga akan memperkokoh eksistensi Unej sebagai mercusuar keilmuan yang diharapkan turut memberikan solusi bagi permasalahan bangsa," ujarnya.
Dalam orasi ilmiah berjudul “Niat, Kecerdasan Buatan, dan Teknologi Asistif: Menuju Integrasi Manusia dan Mesin", Prof. Khairul Anam mengatakan kegelisahannya melihat kalangan difabel yang masih kesulitan menggunakan beragam peralatan asistif atau alat bantu yang awalnya diciptakan untuk membantu mobilitas.
