Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Siswa Sekolah Luar Biasa tipe B (SLB-B) Negeri Tulungagung, Jawa Timur menampilkan empat kesenian tari dalam satu pertunjukan meski seluruh penari menyandang hambatan pendengaran.
Pelatih tari SLB-B Negeri Tulungagung Ammy Aulia Renata Anny di Tulungagung, Selasa, mengatakan penampilan tersebut dalam rangka peringatan dies natalis ke-51 sekolah setempat yang menjadi ajang unjuk karya seni siswa lintas jenjang.
"Para siswa hambatan pendengaran menampilkan empat tarian dalam satu pentas," kata dia.
Sebanyak empat tarian yang dibawakan mereka, meliputi tari Gugur Gunung, Gambyong, Reog Kendang, dan Jaranan.
Seluruh tarian dibawakan oleh siswa tingkat SD, SMP, hingga SMA secara berurutan dalam satu penampilan.
Renata menjelaskan tari Gugur Gunung menggambarkan nilai gotong royong dalam budaya masyarakat Indonesia, sedangkan tari Reog Kendang merupakan tarian khas Kabupaten Tulungagung.
Menurut dia, pelatihan tari bagi siswa hambatan pendengaran membutuhkan metode khusus karena penari tidak dapat mengikuti irama musik secara langsung.
"Latihan dilakukan dengan komunikasi visual dan isyarat gerak. Saya harus menjadi pemandu saat latihan hingga pementasan agar gerakan tetap sinkron," ujarnya.
Selain itu, instruksi gerakan diberikan lebih awal sebelum tarian dimulai, termasuk modifikasi gerak pada tari Jaranan agar mudah dipahami siswa.
Ia menyebut keberhasilan penampilan tersebut tidak lepas dari latihan rutin dan komunikasi intens antara pelatih dan siswa sehingga mampu membangun koneksi dalam setiap pementasan.
Metode pelatihan sebaya melibatkan sesama peserta disabilitas menjadi pendekatan paling efektif untuk memandu siswa yang masih membutuhkan waktu memahami dan menghapal setiap gerakan tari.
"Gerakan tari yang kami berikan dan kemudian dimainkan juga dibuat lebih pendek. Durasi paling sekitar 5-6 menit agar mereka tetap concern dengan tarian yang kita ajarkan. Lebih dari itu fokus mereka akan cenderung turun," kata Renata.
