Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menyebutkan peletakan batu pertama (groundbreaking) enam dari 18 proyek hilirisasi Danantara akan menciptakan nilai tambah dan meningkatkan daya saing industri nasional.
Anindya, yang ditemui di Jakarta, Senin, menegaskan hilirisasi atau downstreaming menjadi kunci transformasi ekonomi Indonesia karena mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam melalui proses pengolahan di dalam negeri.
"Downstreaming itu membawa nilai tambah yang paling penting. Nilai tambah untuk pekerjaan, nilai tambah untuk investasi, dan juga perdagangan," ujarnya.
Anin, panggilannya, menilai dengan pengolahan yang lebih dalam, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor komoditas mentah, melainkan produk dengan kandungan nilai tambah yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pergeseran pola ekspor nasional, dari yang selama ini bertumpu pada komoditas primer seperti crude palm oil (CPO) dan batu bara, menuju produk turunan yang memiliki daya saing lebih kuat di pasar global.
"Supaya Indonesia bisa ekspornya bukan saja palm oil atau batu bara, tapi juga semakin mempunyai nilai tambah," katanya.
Lebih lanjut, Anin juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi dalam mendukung hilirisasi.
Ia mencontohkan potensi pengolahan silika menjadi wafer silikon untuk industri semikonduktor, yang dapat mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.
Sebelumnya, Danantara pada Jumat (6/2/2026) melakukan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I dari 18 proyek yang sedang dicanangkan.
Adapun keenam proyek hilirisasi fase I itu adalah:
- Proyek hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan total investasi 3 miliar dolar AS dan peningkatan kapasitas produksi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
- Proyek bioetanol di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur, yang memproduksi etanol 30 ribu kilo liter per tahun
- Proyek biorefinery di Cilacap, Jawa Tengah, yang memproduksi avtur hingga 6.000 barel per hari.
- Fasilitas integrated poultry di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat, yang bisa menambah produksi 1,5 juta ton daging ayam, 1 juta ton telur, dan menciptakan 1,46 juta lapangan kerja baru.
- Pabrik garam dan mechanical vapor recompression (MVR) di Gresik, Manyar, dan Sampang, yang akan menambah kapasitas produksi PT Garam sebesar 380 ribu ton per tahun, sekaligus memperkuat swasembada garam.
