Probolinggo (ANTARA) - Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menghadirkan ulama terkemuka asal Mesir, Syekh Dr. Muhammad Dasuqi Amin Kahilah dan menggelar kajian atau daurah Al Quran, Jumat.

Dalam forum itu, Syekh Dasuqi yang merupakan pakar dari Universitas Al Azhar Kairo ini membedah secara mendalam sejarah dan pentingnya ilmu qiraat sebagai penjaga orisinalitas wahyu atau petunjuk.

Menurut dia, keberagaman bacaan Al Quran merupakan bentuk kemudahan (taysir) yang diberikan Allah bagi umat Islam, dan ia menganalogikan keragaman dialek di Jazirah Arab kala itu dengan kemajemukan bahasa di Indonesia.

"Al Quran tidak hanya turun dengan dialek Quraisy, melainkan dengan bahasa Arab yang luas, sebagaimana Indonesia yang memiliki beragam dialek suku namun disatukan satu bahasa. Al Quran pun mengakomodasi berbagai logat Arab agar mudah dipelajari," kata Syekh Dasuqi di hadapan santri di aula Ponpes Nurul Jadid Paiton.

Ia pun mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, "Unzilal Qur'an 'ala sab'ati ahruf" yang artinya Al Quran diturunkan dalam tujuh ragam bacaan.

Syekh Dasuqi menekankan bahwa perbedaan qiraat bukanlah pertentangan, melainkan kekayaan makna, dan ia mencontohkan variasi bacaan seperti majraha dan majreha, sebagai bukti fleksibilitas yang tetap terjaga akurasinya.

Dalam kesempatan itu, ia juga membandingkan Al Quran dengan kitab-kitab terdahulu.

"Berbeda dengan Taurat yang diturunkan dalam bentuk tulisan pada papan, Al Quran turun dan dijaga melalui hafalan (shudur), inilah yang disebut sebagai I'jazul Quran atau kemukjizatan Al Quran, di mana kemurniannya tetap utuh tanpa penambahan atau pengurangan meski telah melewati berbagai upaya pengingkaran sejak zaman Musailimah Al-Kadzdzab hingga era modern," paparnya.

Dalam tinjauan sejarah, Syekh Dasuqi mengisahkan kebijakan Khalifah Usman bin Affan yang melakukan kodifikasi (penyusunan) Al Quran ke dalam enam hingga tujuh mushaf untuk dikirim ke berbagai wilayah seperti Makkah, Kufah, Yaman, hingga Syam.

"Sayyidina Usman tidak hanya mengirim mushaf, tetapi juga mengutus guru-guru ahli, tujuannya agar umat tidak membaca Al Quran sesuai kemauan sendiri, melainkan berdasarkan sanad yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW," ucap Syekh Dasuqi.

Mengenai kehadiran ulama Al Azhar di Indonesia, kata Syekh Dasuqi, sebagai langkah strategis negara untuk membendung pemikiran ekstrem dan sesat.

Ia menambahkan, Indonesia membutuhkan sumber keilmuan yang otoritatif dan moderat (wasathiyah) yang selama ini dijaga oleh institusi seperti Al Azhar.

"Santri Ponpes Nurul Jadid diharapkan dapat memperkuat literasi Al Quran, dan tidak hanya dari sisi kelancaran membaca, tetapi juga pemahaman sejarah dan metodologi keilmuan yang menyertainya," kata Syekh Dasuqi.



Pewarta: Novi Husdinariyanto
Editor : Vicki Febrianto

COPYRIGHT © ANTARA 2026