Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah 33 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.755 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.722 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
“Rupiah pada perdagangan hari ini bergerak fluktuatif. Tekanan masih berasal dari faktor global, terutama penguatan dolar AS seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi lebih lama, serta kenaikan imbal hasil US Treasury,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Mengutip Xinhua, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah pada kisaran antara 3,5-3,75 persen.
Berbagai indikator menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berkembang dengan solid, penambahan lapangan kerja tetap rendah, tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilitas, serta inflasi agak tetap tinggi.
“Kondisi tersebut mendorong investor global bersikap lebih berhati hati terhadap aset berisiko, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi terbatas meski pelemahan diperkirakan tidak agresif,” ungkap Taufan.
Melihat sentimen domestik, lanjutnya, sentimen terhadap rupiah cenderung bercampur. Stabilitas kebijakan Bank Indonesia (BI) dinilai berperan dalam menahan volatilitas nilai tukar, namun dinamika di pasar saham dapat mempengaruhi persepsi risiko investor.
“Trading halt tidak berdampak langsung terhadap rupiah, tetapi dapat memicu aliran keluar dana asing dari pasar keuangan apabila tekanan berlanjut, yang pada akhirnya berpotensi menekan nilai tukar,” ujar Research and Development ICDX.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.786 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.723 per dolar AS.
