Pamekasan (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Jawa Timur menggerakkan para tenaga medis di berbagai puskesmas dan puskesmas pembantu di wilayah itu, untuk melakukan deteksi dini kemungkinan adanya warga yang terserang penyakit superflu.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan Saifudin di Pamekasan, Jawa Timur, Selasa mengatakan, deteksi dini perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya penyebaran, sekaligus sebagai bentuk antisipasi.
"Memang sejauh ini belum ada laporan ataupun temuan ada warga Pamekasan yang terserang jenis penyakit ini. Tapi kami perlu melakukan antisipasi, karena bagi kami, mencegah tetap lebih baik dari pada mengobati," katanya.
Virus superflu sebelumnya telah terdeteksi di Surabaya, dan tercatat ada sebanyak 18 kasus yang telah dinyatakan positif terserang penyakit itu.
Menurut Saifudin, gejala super jenis penyakit itu meliputi demam tinggi, batuk dan pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, serta tubuh terasa lemas, dengan durasi sakit juga cenderung lebih lama dibandingkan flu biasa.
"Dan yang perlu diketahui bahwa virus superflu ini mutasinya cepat," katanya.
Karena itu, sambung dia, warga yang mengalami gejala klinis seperti itu hendaknya segera mencari pertolongan medis.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur merilis, temuan kasus superflu terjadi pada akhir 2025, dengan mayoritas penderita berasal dari kelompok usia muda.
Dari hasil pemantauan epidemiologis, seluruh pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri.
Selain menggerakkan tenaga medis untuk melakukan deteksi dini, Dinkes Pamekasan juga menggencarkan sosialisasi penggunaan masker bagi warga yang hendak keluar rumah guna mengantisipasi penularan.
"Sebab kalau menggunakan masker juga mengantisipasi terjadinya penularan flu biasa," kata Kepala Dinkes Pamekasan Saifudin, menjelaskan.
Pewarta: Abd AzizEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026