"Tantangan utama kami memang menyenangkan tamu, soal tantangan alam itu sangat ditentukan kondisi alam, tapi Sungai Pekalen itu sangat baik, karena di saat kemarau tidak pernah kering dan di saat hujan justru mengasyikkan," tuturnya.
Susu Jahe
Legenda yang berkembang di masyarakat setempat bahwa Sungai Pekalen yang bersumber dari mata air Gunung Lamongan dan Argopuro (Jawa Timur) itu pernah disinggahi Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajahmada, bahkan Ratu Dewi Rengganis juga dipercaya pernah mandi di sungai itu saat melarikan diri ke Gunung Argopuro.
Terlepas dari legenda itu, awal pengarungan di Sungai Pekalen, para pengarung pun sudah disuguhi "fantastic jump" yang cukup menegangkan, bahkan di tengah pengarungan pun ada air terjun yang suaranya bergemuruh hingga menambah keasyikan tersendiri.
Ada pula sejumlah kelelawar yang hilir-mudik, lalu di tengah perjalanan ada "rest area" sembari menikmati susu jahe. "Biasanya, pengarung memang diberi minuman es atau air kelapa muda, tapi kami memberinya minuman yang menghangatkan, karena di sini 'kan dingin. Ada rasa jahe dan kayu manis," ujar seorang pelayan di 'base camp' Noars.
Setelah itu, para pengarung melanjutkan setengah perjalanan lagi. "Yang perlu diwaspadai itu ranting (pepohonan) saat rafting (pengarungan), karena ranting itu bisa melukai wajah kita," tutur Kepala Laboratorium Pemrograman Sistem Informasi ITS Bekti Cahyo Hidayanto SSI M.Kom.
Namun, Pemimpin Redaksi Majalah ITS Point itu mengaku senang, karena hal terpenting adalah mengikuti instruksi dari para pemandu. "Siapapun harus mengikuti instruksi guide, insya-Allah, kita akan aman, lancar, dan selamat kalau mengikuti instruksi itu," tukasnya.
Setiba di "base camp", pengarung pun bergegas ke kamar mandi dan berganti pakaian, sedangkan petugas "Noars" pun menyiapkan tas kresek untuk membungkus baju basah di meja dekat kamar mandi.
Petugas juga menyiapkan teh jahe. Bagi pengarung yang Muslim. Selanjutnya, pengunjung Muslim dapat melakukan shalat di mushalla yang terletak di samping "base camp" Noars.
Di saat para pengarung bersibuk mandi, berganti pakaian, dan shalat itu, petugas pun menyiapkan makanan yang terdiri dari sayur krawu, tahu, ikan pari, dadar jagung, dan sambal di atas cobek. Pedas, tapi nikmat.
"Kami berharap sajian kami memulihkan energi para pengaruh setelah menyusuri Pekalen sepanjang 12 kilometer dalam waktu 2,5 jam hingga tiga jam, lalu mereka perlu berjalan kaki dari sungai ke base camp, tentu melelahkan," tutur Wawan Rambo.
Agaknya, "safety" dan "service" itulah yang membuat "Noars Rafting" pun ramai, meski fasilitas yang dimiliki masih serba terbatas, seperti jalan masuk ke "base camp" yang belum baik dan papan nama pengenal arah ke "Noars Rafting" yang belum banyak.
"Kami bersyukur, pada hari biasa ada 10-an orang yang kemari, tapi kalau hari libur pada Sabtu dan Minggu bisa mencapai 200-an pengunjung, bahkan kalau liburan bersama bisa mencapai 250 pengunjung dalam sehari," urainya. (*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026