Surabaya (ANTARA) - Menteri Agama Republik Indonesia (Menag RI) Nasaruddin Umar menegaskan Indonesia siap tampil sebagai produsen pemikiran Islam modern dalam forum International Conference on Indonesian Islam di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
"Kementerian Agama telah memulai rangkaian diskusi strategis di berbagai wilayah, termasuk Makassar, Medan, dan Surabaya, untuk menghimpun respons akademisi, media, dan tokoh internasional," katanya di kampus UINSA Surabaya, Rabu.
Dalam forum internasional bertema Why Indonesia as a New Center of Muslim Civilization? tersebut, Nasaruddin menyampaikan bahwa kepemimpinan Indonesia, terutama di bawah Presiden Prabowo Subianto, semakin mendapat perhatian dunia Islam.
“Seminar inilah di Surabaya ini memperkenalkan Islam Indonesia itu seperti apa. Kita akan expose bahwa Islam di Indonesia itu seperti yang diurai dalam seminar ini,” katanya.
Menurut dia, dunia Islam kini memandang Indonesia sebagai rising star dalam pengembangan pemikiran Islam, demokrasi, dan ekonomi modern. Ia menilai perlunya pembalikan arus rujukan intelektual keagamaan.
“Dulu orang Indonesia belajar ke Mesir dan Timur Tengah. Buku-buku Arab diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Sekarang harus dibalik. Buku-buku berbahasa Indonesia tentang Islam harus diterjemahkan ke Bahasa Arab. Orang-orang Timur Tengah harus belajar Islam ke Indonesia,” tuturnya.
Ia juga menyoroti keunggulan Indonesia berupa stabilitas politik, ekonomi, kerukunan beragama, serta populasi Muslim terbesar di dunia.
“Kita adalah negara paling stabil, dan 90 persen umat Islam di Indonesia adalah Sunni. Kita punya pondasi kokoh, toleransi beragama sudah selesai insya Allah. Kementerian Agama menjadi faktor kerukunan yang tidak dimiliki negara lain,” ujarnya.
Nasaruddin menambahkan bahwa bonus demografi, penguatan sekolah unggulan, dan kesiapan generasi muda akan memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan global.
Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Prof. Akh. Muzakki menegaskan konferensi internasional ini menjadi ruang menampilkan wajah Islam Indonesia kepada dunia.
“Seminar ini untuk membuka harapan bahwa di tengah tatanan global yang tidak baik-baik saja, Islam Indonesia perlu ditampilkan. Jawa Timur menjadi epicentrum pesantren dan harmoni, dan itu penting untuk dipromosikan,” ujarnya.
Pada akhir rangkaian akan dibacakan Deklarasi Surabaya bersama mahasiswa internasional untuk mendukung visi Presiden Prabowo Subianto sebagaimana dipaparkan Menteri Agama.
“Ini mendorong bagaimana pesantren bisa menjadi contoh toleransi dan hidup damai. Di ujung seminar akan ada Deklarasi Surabaya untuk mempromosikan gagasan Pak Presiden yang didetailkan oleh Pak Menteri,” ucapnya.
