Surabaya (ANTARA) - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Dwi Putranto menyatakan transformasi digital dan adopsi teknologi industri 5.0 merupakan kunci dalam mewujudkan industri gula yang modern, efisien dan berkelanjutan.
“Industri gula harus segera bertransformasi. Pemanfaatan teknologi digital dan penerapan prinsip Industri 5.0 bukan lagi pilihan, tapi keharusan jika ingin bertahan dan berkembang,” katanya di Surabaya, Jawa Timur, Rabu.
Adik menuturkan Jatim sendiri memiliki peran strategis sebagai daerah penghasil gula terbesar di Indonesia dan menyumbang sekitar 50 persen dari total produksi nasional.
Data terbaru menunjukkan pada 2024 luas lahan tebu di provinsi ini mencapai 229.869 hektare dan menghasilkan sekitar 1,22 juta ton gula dengan rendemen 7,47 persen.
"Angka itu berkontribusi signifikan terhadap produksi gula nasional yang diperkirakan mencapai 2,6 juta ton pada 2024/2025," ujarnya.
Dengan kontribusi sebesar itu, kata Adik, transformasi digital di sektor pergulaan Jawa Timur otomatis akan berdampak langsung pada ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, apabila Jatim mampu mempercepat modernisasi pabrik dan mengintegrasikan teknologi cerdas maka separuh tantangan produksi gula nasional sudah bisa terjawab,
Di sisi lain, industri gula juga sedang menghadapi tantangan besar mulai dari rendahnya produktivitas lahan, usia pabrik yang sudah tua, hingga rantai pasok yang belum efisien.
Tak hanya itu, perubahan iklim dan tuntutan keberlanjutan juga semakin menekan sektor ini untuk berinovasi.
Namun, di tengah tantangan tersebut, peluang terbuka luas dengan hadirnya teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan sistem otomasi cerdas yang mampu meningkatkan efisiensi produksi.
Adik menilai penerapan Industri 5.0 yang mengedepankan kolaborasi antara manusia dan mesin akan membawa sektor pergulaan menuju efisiensi tinggi sekaligus keberlanjutan.
Teknologi seperti sensor tanah, traktor otomatis, pemantauan produksi berbasis Internet of Things (IoT), hingga digitalisasi rantai pasok akan mempercepat proses modernisasi dari hulu hingga hilir.
Adik menjelaskan transformasi digital di sektor pergulaan tidak hanya berdampak pada efisiensi ekonomi tetapi juga pada ketahanan pangan nasional karena produksi bisa dipantau secara real-time, distribusi lebih cepat dan potensi kehilangan hasil panen bisa ditekan.
“Ini bukan sekadar soal mesin dan data, tetapi soal menjaga keseimbangan antara teknologi, manusia dan keberlanjutan lingkungan,” kata Adik.
Meski demikian, Adik mengingatkan kolaborasi antara dunia usaha, riset dan pemerintah tetap menjadi syarat utama keberhasilan digitalisasi industri gula termasuk dalam melatih petani tebu memahami penerapan teknologi baru serta membuka akses kemitraan dengan penyedia solusi digital dari dalam dan luar negeri.
