Surabaya (ANTARA) - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) terus memperkuat dukungan bagi sineas muda di berbagai daerah, termasuk Surabaya, melalui fasilitasi, pendampingan dan kolaborasi lintas sektor untuk memajukan industri perfilman lokal hingga nasional.
Tenaga Ahli Menteri Ekonomi Kreatif Bidang Perencanaan Keuangan dan Program Riwud Mujirahayu mengatakan pengembangan subsektor film menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
“Kami membantu, membimbing, dan memfasilitasi teman-teman sineas muda agar dapat berkolaborasi, meningkatkan kualitas, dan memproduksi film pendek maupun film berdurasi panjang,” kata Riwud saat menghadiri kegiatan "Bicara Film: Merayakan Kearifan Lokal lewat Sinema" di Surabaya, Rabu.
Ia menambahkan, Kemenkraf memiliki 17 subsektor ekonomi kreatif, termasuk film, fesyen, kuliner dan kriya.
Seluruh subsektor, kata dia, dikembangkan dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, komunitas, media, hingga lembaga pendukung lainnya.
“Ekonomi kreatif itu tumbuh dari daerah. Karena itu, kami hadir langsung ke Surabaya untuk memfasilitasi sineas muda agar terus berkarya dan meningkatkan produksi, baik film dokumenter maupun film berorientasi internasional,” ujarnya.
Meski demikian, Riwud mengakui masih terdapat kendala dalam hal ketersediaan peralatan produksi dan dukungan anggaran.
Ia menjelaskan, Kemenkraf saat ini tengah berupaya menambah alokasi anggaran agar pendampingan bagi komunitas film di daerah dapat lebih optimal.
“Anggaran kami memang masih terbatas, tapi komitmen kami tetap kuat untuk terus mengawal dan memfasilitasi sineas muda, khususnya di Surabaya, agar bisa meningkatkan produksi dan kolaborasi,” tuturnya.
Terkait dengan fasilitas pembiayaan, Riwud mengatakan pemerintah belum dapat memberikan jaminan langsung.
Namun, kata Riwud, program pendampingan keuangan bagi pelaku industri kreatif tetap dijalankan secara bertahap.
“Harapan kami, seiring peningkatan anggaran, dukungan bukan hanya berupa sumber daya manusia, tetapi juga bantuan finansial bagi para sineas,” ucapnya.
Ia juga menyinggung pentingnya sinergi antara sineas lokal dengan pelaku film nasional, seperti yang dilakukan oleh produser asal Malang, Bayu Skak, yang melibatkan 90 persen tenaga lokal dalam produksinya.
Menurut Riwud, Kemenkraf juga telah bekerja sama dengan PARFI dan platform Vidio dalam program “Akselerasi Kreatif” untuk mempromosikan film pendek karya anak muda daerah melalui tayangan eksklusif dan monetisasi digital.
“Tujuan kami bukan hanya agar mereka berkarya, tapi juga agar karya itu bisa menghasilkan pendapatan. Kami bantu monetisasi melalui platform digital,” katanya.
Riwud menjelaskan, kegiatan “Bicara Film” yang digelar di Surabaya merupakan bagian dari rangkaian program nasional pengembangan film daerah.
Setelah sebelumnya berlangsung di Semarang, kegiatan serupa akan digelar di sejumlah kota lainnya hingga akhir tahun.
“Surabaya ini kota kedua, dan rencananya tahun ini ada tujuh wilayah yang kami datangi. Dengan dukungan yang terus meningkat, kami yakin sineas muda Indonesia akan semakin berdaya dan produktif,” jelasnya.
