Dua alumnus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) Indry Liong, S.Farm dan Merlyn Xumara, S.Farm menginovasikan garam mandi menjadi produk spa praktis yang diberi nama Effervescent Salt (Efsalt).

Indry Liong ditemui di Surabaya, Rabu, mengatakan inovasi garam mandi dalam bentuk bath bomb untuk menambah varian garam mandi yang selama ini umumnya berbentuk kristal atau granul dan bertekstur kasar.

"Sensasi effervescent tengah digemari dan menarik perhatian masyarakat, karena sediaan akan menghasilkan gas ketika dimasukkan dalam air dan larut dalam waktu kurang lebih satu hingga dua menit. Selain itu, ada efek relaksasi yang ditimbulkan saat menggunakan produk kami," tutur Indry.

Salah satu bahan yang dia gunakan adalah garam (magnesium sulfat). Garam diketahui kaya akan mineral yang bermanfaat mengangkat sel sel kulit mati (exfoliant) sehingga kulit menjadi lebih lembut.

Untuk membuat bath bomb, Indry mencampurkan magnesium sulfat yang dihaluskan, lalu ditambahkan sodium bikarbonat, kemudian campur hingga rata lalu dibubuhkan pewarna sedikit demi sedikit dan campurkan hingga rata.

Selanjutnya dia memasukkan asam sitrat yang dihaluskan dan tambahkan guar gum, lalu campur hingga rata. Bahan pun siap dicetak berbentuk bola.

"Semua bahan kecuali guar gum perlu dioven terlebih dahulu untuk mengurangi tingkat kadar air pada setiap bahan, karena apabila kelembapan tinggi akan menyebabkan reaksi kimia antar bahan," ujar Indry.

Bath bomb inovasinya dapat digunakan dua kali dalam seminggu dan menimbulkan efek relaksasi saat digunakan ketika berendam dan dapat melembutkan kulit.

Sementara itu rekan Indry, Merlyn Xumara, membuat garam mandi dalam bentuk serbuk halus (effervescent).

"Dipilih bentuk serbuk agar mempercepat proses larutnya dalam air, dan efek effervescentnya membantu melepaskan aroma minyak esensial ke udara sehingga tercipta aroma yang aromatik," katanya.

Merlyn juga menambahkan minyak esensial aroma lavender. Selain untuk mandi, garam mandi inovasinya bisa untuk merendam kaki dengan cara dicampurkan pada air hangat.

Pada proses pembuatannya, Merlyn mengoven seluruh bahan yang digunakan yaitu natrium bikarbonat, magnesium sulfat, Sodium Lauryl Ether Sulfate (SLES), asam sitrat dan pewarna. Setelah dioven kemuadian SLES dan magnesium sulfat dihaluskan lebih dulu, baru kemudian pewarna ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diratakan.

"Setelah warna serbuk sudah tercampur dengan sempurna, ditambahkan sodium bikarbonat dan minyak esensial. Proses terakhir dicampurkan dengan asam sitrat," ucapnya.

Untuk melihat kualitas dari Efsalt sendiri, Indry dan Merlyn sudah melakukan serangkaian uji dan hasilnya pun aman.

"Selama kita lakukan uji coba kepada 30 panelis semuanya aman, tidak ada iritasi atau kemerahan pada kulit. Tapi jika ingin dikomersilkan tetap harus dilanjutkan proses ujinya sesuai dengan standar yang berlaku," kata Merlyn.

Pewarta: Willy Irawan

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019