Belajar itu tak berbatas ruang dan waktu. Anak kecil, remaja, orang dewasa, tidak ada kata henti untuk belajar. Di rumah, di sekolah, di alam terbuka, belajar bisa dilakukan di mana saja. Setidaknya itulah prinsip yang dipegang teguh Wiwik Widawati, 40 tahun. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Gondang Kecamatan Gondang Kabupaten Bojonegoro itu masih terus belajar dan mengajak guru-guru untuk terus menimba ilmu.

Wiwik, begitu dia disapa, kini mengelola Pusat Belajar Guru (PBG) Bojonegoro. Sebagai pengelola, dia giat mempromosikan PBG ke sekolah-sekolah. Dia bersama ratusan guru di seluruh wilayah Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur belajar dan berbagi ilmu di sana. "Kita belajar banyak hal. Terutama yang berkaitan dengan perkembangan ilmu dan teknologi pengajaran," ungkap dia.

Wiwik meyakini bahwa guru harus berwawasan luas, tahu perkembangan keilmuan, dan menghargai ilmu itu sendiri. Di PGB inilah, kata dia, guru-guru berkumpul, berdiskusi, bertukar pengalaman dan belajar dari para ahli. "PBG sudah punya 25 guru ahli dan 15 orang pengelola," tutur dia.

Dari diskusi dan berbagai kegiatan ilmiah di PBG, para guru mampu menerbitkan jurnal ilmiah. PBG Bojonegoro telah menerbitkan beberapa jurnal ilmiah yang saat ini menjadi rujukan di dunia pendidikan. Dalam menyusun jurnal tersebut, para guru melakukan serangkaian survey, diskusi, dan penulisan mengenai minat belajar. Hasil survey itu juga menjadi modul dalam paket pelatihan yang ditawarkan PBG Bojonegoro.

Gedung PBG Bojonegoro yang terletak di Jalan Rajawali No. 3 Bojonegoro, berdiri di atas lahan seluas setengah hektar dengan fasilitas cukup lengkap. Guru-guru dengan leluasa bisa menggunakan fasilitas laboratorium Bahasa, laboratorium sains, laboratorium komputer, perpustakaan, dan ruang pertemuan. Tidak mengherankan jika gedung tersebut tak pernah sepi kegiatan, selalu ada aktivitas diskusi, pelatihan, atau pun seminar.  

Semua fasilitas tersebut bisa dinikmati secara gratis oleh anggota PBG yang saat ini sudah mencapai 1.036 guru. Tidak hanya guru, PBG juga sering digunakan oleh masyarakat umum. Biasanya mereka menggunakan ruang pertemuan untuk pelatihan, seminar, atau hanya sekadar rapat. Perpusatakaan termasuk yang paling sering digunakan. Hingga saat ini, anggota yang terdaftar sudah mencapi lebih dari 5.000 orang dari semua kalangan.

Kini PBG sudah diserah terimakan kepada Pemkab Bojonegoro pada Rabu, 28 November 2016. Bupati Bojonegoro, Drs. H. Suyoto M.Si., yang hadir dalam acara serah terima menyampaikan ada tiga kunci bagi PBG untuk dapat melampaui batas maksimal. Yaitu tekad, produktivitas dan kerja-sama.

Menurut Bupati, tekad atau niat menjadi faktor utama karena setiap langkah yang diambil selalu diawali dengan niat terlebih dahulu. "Saya berharap PBG yang berada di tangan bapak ibu guru, niatnya harus diperlebar dan diperluas. Mari kita transformasikan bahwa niat kita adalah untuk kebaikan orang lain. Itulah kunci melampaui batas maksimal," papar Bupati di depan ratusan guru yang hadir.

"PBG adalah bagian untuk keberhasilan Bojonegoro di masa yang akan datang," imbuhnya.

Senada disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Drs. H. Hanafi, MM. Menurut dia, PBG merupakan institusi akademik yang diberikan kepada guru agar meningkatkan kemampuan dalam mendidik. PBG, lanjutnya, memiliki tujuan untuk membentuk pendidik Bojonegoro yang profesional dan kompeten, serta menjadikan guru yang kreatif dan berkarakter.

"Sehingga diharapkan akan ada perubahan pendidikan yang signifikan. Selain itu, dengan adanya PBG ini tidak ada lagi kesenjangan komunikasi antara guru tingkat TK sampai SMA," ujarnya.

Pewarta: Rudy P

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017