Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Program makan bergizi gratis (MBG) menghapus kesenjangan gizi anak-anak desa di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sehingga menjadi langkah konkret pemerintah untuk memastikan setiap anak mendapat kesempatan yang sama agar tumbuh sehat dan cerdas.
"Program MBG sangat membantu anak-anak di desa, terutama mereka yang tidak selalu mendapat menu sehat di rumah," kata Kepala SDN Pagowan 01, Cukup Santoso, di Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, Rabu.
Di tengah keterbatasan akses pangan bergizi di wilayah pedesaan, lanjut dia, program tersebut hadir sebagai intervensi nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh siswa-siswi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pagowan 01 di Kecamatan Pasrujambe.
Sejak mulai dilaksanakan pada 26 Agustus 2025, seluruh 72 murid SDN Pagowan 01 menerima paket makan bergizi lima kali dalam sepekan. Menu yang disajikan selalu bervariasi, lengkap dengan karbohidrat, protein, sayur, dan buah, sesuai dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) anak usia sekolah.
"Dengan adanya MBG, asupan gizi anak-anak lebih terjamin. Bahkan makanan yang biasanya dihindari, seperti sayur atau buah, kini bisa mereka nikmati bersama teman-teman di sekolah," tuturnya.
Ia menjelaskan kebiasaan baru itu tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga membangun pola makan yang lebih teratur. Anak-anak yang tadinya sulit makan kini terbiasa menghabiskan porsi mereka, apalagi saat makan dilakukan bersama-sama di sekolah dengan pendampingan guru.
Menurut dia MBG berperan sebagai jembatan pemerataan dan program tersebut memastikan bahwa anak-anak di pedesaan mendapat kualitas gizi yang setara dengan di perkotaan, tanpa terbatas oleh kondisi ekonomi keluarga maupun keterbatasan akses pangan.
"Program itu adalah wujud nyata keberpihakan pemerintah. Anak-anak di desa tidak boleh kalah sehat hanya karena akses pangan bergizi lebih sulit. Melalui MBG, kami pastikan semua anak punya peluang tumbuh dengan gizi yang cukup," katanya.
Cukup Santoso mengatakan dampaknya mulai terlihat karena anak-anak lebih bersemangat mengikuti pelajaran, konsentrasi meningkat, dan suasana kelas menjadi lebih hidup, sehingga orang tua pun merasa terbantu karena mendapat dukungan tambahan dalam memastikan kebutuhan gizi anak-anak mereka terpenuhi.
Program MBG di Lumajang membuktikan bahwa pembangunan manusia harus dimulai sejak dini dan menyentuh akar persoalan, yakni akses gizi seimbang. Dengan intervensi langsung di sekolah, pemerintah tidak hanya menyehatkan generasi sekarang, tetapi juga menyiapkan pondasi bagi generasi emas 2045
