Surabaya (ANTARA) - Saham PT DADA Tbk ($DADA) mulai menarik perhatian pelaku pasar modal seiring beredarnya kabar proses negosiasi dengan perusahaan properti multinasional berskala besar.
Dua nama raksasa asal Jepang yakni Kajima Corporation dan Mitsubishi Estate disebut-sebut tengah mengkaji peluang masuk ke perseroan lantaran saham PT DADA Tbk mempunyai potensi menjadi magnet investasi.
“Momentum ini patut diperhatikan oleh para investor yang masih berburu cuan di pasar modal,” kata Analis pasar modal Rendy Yefta di Surabaya, Kamis.
Rendy mengatakan kedua perusahaan asal Jepang tersebut dikenal sangat selektif lantaran biasanya hanya berinvestasi pada entitas dengan rekam jejak keuangan yang sehat serta kepatuhan hukum yang kuat.
Menurut dia, dengan adanya partner strategis berskala global ini akan memberikan nilai tambah jangka panjang untuk perseroan sekaligus meningkatkan daya saing dan memperluas bisnis sekaligus para stakeholder.
“Dengan kombinasi valuasi yang masih rendah, fundamental yang terjaga, dan potensi katalis dari masuknya investor strategis global, DADA berada di radar sebagai salah satu kandidat hidden gem di bursa saham Indonesia,” kata Rendy.
Aksi ini, lanjutnya, selaras dengan profil DADA sebagai salah satu emiten di sektor properti yang selama ini tercatat konsisten membukukan laba, bebas dari kasus hukum, dan memiliki struktur manajemen yang solid.
Ia menilai apabila akuisisi ini terealisasi maka DADA berpotensi menjadi kendaraan ekspansi untuk proyek-proyek berskala besar di Indonesia yang pada akhirnya dapat mengubah peta valuasi perseroan secara signifikan.
“Yang menarik lainnya, harga saham DADA saat ini masih diperdagangkan di bawah nilai buku. Distribusi kepemilikan juga berjalan bertahap dan tidak menunjukkan pola dumping,” ujarnya.
PT DADA Tbk sendiri adalah perusahaan properti di tanah air yang telah beroperasi selama lebih dari 20 Tahun dengan rekam jejak keuangan yang solid.
Perseroan berkomitmen menghadirkan nilai tambah bagi pemegang saham melalui pertumbuhan berkelanjutan dan tata kelola yang transparan.
Selain itu, belum banyak investor institusional yang masuk sehingga memberi peluang bagi early movers yang ingin menangguk cuan dari aksi korporasi ini.
