Surabaya (ANTARA) - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono mengajak pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta kalangan pengusaha untuk mendukung kemajuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan memanfaatkan produk-produk lokal.
“Saya harap BUMD dan BUMN di Surabaya serta para pengusaha bisa memanfaatkan produk UMKM seperti ini agar mereka bisa lebih berkembang,” ujarnya saat mengunjungi galeri kerajinan tangan Nena Neno Handycraft di kawasan Kedungsari, Surabaya, Rabu.
Politisi Partai Gerindra tersebut juga mendorong agar produk tas lukis buatan Nena Neno bisa dikembangkan menjadi cenderamata khas Kota Surabaya yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai acara resmi, baik oleh pemerintah maupun swasta.
“Produk ini bisa menjadi souvenir khas Surabaya yang dibagikan dalam kunjungan resmi ke berbagai instansi atau mitra luar negeri. Ini juga bisa digunakan oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai bentuk promosi budaya dan kreativitas daerah,” tuturnya.
Bambang menjelaskan Nena Neno Handycraft merupakan salah satu pelaku UMKM legendaris di Surabaya yang telah menekuni kerajinan handmade sejak lama dan telah menembus pasar internasional seperti Jepang, Korea, Belanda, hingga negara-negara di Eropa.
“Produk-produk ini berkualitas, dikerjakan dengan tangan, minim penggunaan mesin, dan sudah diminati pasar luar negeri. Agar bisa berkembang lebih besar lagi, saya dorong agar produk seperti ini mendapatkan fasilitasi standar nasional Indonesia (SNI),” ucapnya.
Menurutnya, standar SNI akan mempermudah UMKM menembus pasar ekspor secara massal. Selain itu, ia menekankan pentingnya dukungan pembiayaan dan sertifikasi dari pemerintah.
“Permodalan bisa diperoleh dari KUR (Kredit Usaha Rakyat), yang sekarang tersedia hingga Rp100 juta tanpa agunan. Pemerintah juga seharusnya membebaskan biaya sertifikasi, termasuk SNI, agar UMKM seperti ini bisa terus hidup dan berkembang,” katanya.
Pemilik Nena Neno Handycraft Sri Sulatiningsih menyambut positif dorongan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa produk-produknya memang telah dikirim ke luar negeri meski dalam skala terbatas.
“Kalau ekspor besar-besaran belum pernah, biasanya perorangan, seperti dari Jepang, Korea, Malaysia, dan Belanda. Produk saya handmade, jadi proses produksinya tidak bisa cepat. Tapi kalau ada permintaan besar dan waktu yang cukup, saya siap,” ujarnya.
Ia mencontohkan, pernah mendapat pesanan 2.500 unit dari Kepala Bappeda Jawa Timur yang diselesaikan dalam enam bulan lengkap dengan kemasan kotak.
Sri pun berharap pemerintah maupun pelaku usaha bisa membantu membuka akses pasar lebih luas bagi produk-produk UMKM seperti miliknya.
