Pacitan - Puncak arus balik di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur diprediksi terjadi pada Sabtu (25/8) atau H+7 I Idul Fitri 1433 Hijriah karena arus penumpang saat ini belum menunjukkan peningkatan yang berarti. "Kalau melihat trennya sekarang, sepertinya puncak arus balik terjadi dua atau tiga hari lagi," ujar pengurus operasional perusahaan otobus (PO) Aneka Jaya, Suryono Slamet, Rabu. Prakiraan Suryono Slamet didasarkan data fluktuasi penumpang armada yang dioperasikannya, dari terminal bus Pacitan dengan tujuan Jakarta. Saat ini data di tempat pembayaran restribusi (TPR) terminal bus tercatat sebanyak 20 pemberangkatan khusus tujuan Jakarta, dengan jumlah penumpang mencapai 617 orang. Namun jumlah itu belum sebanyak data penumpang bus pada puncak arus balik lebaran tahun sebelumnya yang tembus 1.000 penumpang lebih. Menurut Suryono Slamet, fluktuasi penumpang masih akan terus terjadi hingga dua atau tiga hari mendatang seiring habisnya masa libur maupun cuti Lebaran bagi warga asal Pacitan yang merantau ke Jakarta maupun daerag-daerah laiinya. Selain PO Aneka Jaya ada sekitar lima armada lain yang melayani rute yang sama. Perusahaan-perusahaan otobus ini berasal dari Kabupaten Pacitan, Wonogiri, Solo, maupun Bogor. Suryono menambahkan, perusahaan tempatnya bekerja akan menambah armada menjadi 10 bus per hari, naik tiga unit dibanding saat ini. Jika ditambah dengan armada dari PO lain, jumlah pemberangkatan per harinya kemungkinan mencapai lebih dari 20 armada bus. "Semuanya jurusan Jakarta," ujarnya. Kasi Pelabuhan Terminal dan Parkir Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Pacitan, Subarni mengatakan, prediksi puncak arus balik itu didasari tenggat waktu libur Lebaran. Baik pemudik yang bekerja di instansi pemerintah maupun swasta yang memperpanjang masa libur lebaran dengan mengajukan cuti dua hari ataupun izin ke atasan masing-masing. Subarni memperkirakan jumlah pemudik turun lima persen dibanding tahun lalu. Namun ia tidak mengungkapkan angka pastinya secara rinci. Penyebab penurunannya karena banyak pemudik yang menggunakan mobil pribadi atau ikut rombongan mudik gratis dari perusahaan, organisasi masyarakat atau partai politik tertentu. ( *)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026