Disebutkan, menu ikan yang disajikan meliputi berbagai aneka ikan segar lokal yang bisa dipilih langsung, seperti mujair, patin, nila, maupun lele. Namun yang lebih spesifik adalah menu ikan lempuk, yakni ikan teri tawar yang hidupnya hanya ada di Ranu Grati. Ikan lempuk disajikan dalam beragam menu, di antaranya pepes, bumbu rujak atau rempeyek.
Anggota Kelompok Wisata "Angsa Putih" yang lain dari Desa Ranuklindungan, A. rahmat menambahkan, Ranu Grati yang mencakup tiga desa, yakni Ranuklindungan, Gratitunon, dan Sumberdawesari merupakan kawasan yang dikelola sedikitnya empat instansi, yakni pengairan, perikanan, pariwisata, dan kehutanan.
Disebutkan, potensi airnya dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan wisata, perikanan, dan pertanian (irigasi). Usaha perikanan berupa budi daya aneka ikan dalam karamba apung yang telah dirintisanya sejak 1992.
Usaha tersebut sampai sekarang telah mencapai luas sekitar 3,5 hektare atau sekitar 1,7 persen dari luas danau seluas 198 hektare dengan jumlah pembudi daya sebanyak 212 rumah tangga perikanan (RTP).
Pada awalnya, bud idaya ikan di Ranu Grati menggunakan karamba tancap dengan komoditas ikan nila. Dengan makin berkembangnya jumlah pembudi daya ikan maka kemudian dianjurkan untuk melakukan diversifikasi komoditas dengan menggunakan KJA. Pada umumnya KJA yang digunakan dari berbagai ukuran, mulai dari 3x3 meter, 5x5 meter, 6x6 meter, dan 7x7 meter, yaitu setiap 1 unit KJA terdiri atas 3-4 petak.
Jenis ikan yang banyak dikembangkan adalah nila, patin, tombro, gurame, lele, bawal tawar, dan bandeng tawar. Sedangkan ikan hasil tangkapan yang ada di Ranu Grati meliputi, mujair, gabus, belut, lempuk, nila, tombro, wader, serta patin.
Produksi ikan hasil budi daya di Ranu Grati setiap tahunnya terus meningkat, terakhir mencapai 502,8 ton per tahun. Sedangkan produksi ikan hasil tangkapan stagnan, rata-rata 130 ton per tahun.
Dari ketiga usaha tersebut, usaha perikanan, dan pertanian yang telah berjalan. Sedangkan usaha pariwisatanya, meski Ranu Grati pernah dikembangkan sebagai wahana wisata air, kini yang masih kurang berkembang.
Sehingga wisata memancing kini merupakan satu-satunya yang masih bertahan dan terus berjalan. Serta budaya lokal setempat berupa ritual larung sesaji yang digelar setiap 1 Muharam tetap berjalan sesuai jadwal.
Rahmat mengakui, potensi Ranu Grati yang mempiunyai panorama yang memesona hingga kini belum di kembangkan secara maksimal. Padahal, lanjut rahmat, Ranu Grati posisinya sangat strategis, hanya sekitar 1 kilometer dari jalan raya pantai utara Pasuruan - Probolinggo.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026