Situbondo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Situbondo, Jatim, mengantisipasi terjadinya banjir akibat naiknya debit Sungai Sampean Baru yang berhulu di Kabupaten Bondowoso.
"Pemantauan di pintu V Sungai Sampean Baru di Situbondo memang mengalami kenaikan, tapi masih normal, yakni 2,40 meter. Kalau sampai ketinggian air mencapai tiga meter ke atas itu sudah bahaya," kata Kepala BPBD Situbondo Zaenal Arifin, Selasa.
Namun demikian, ia mengemukakan bahwa pihaknya mengantisipasi berbagai kemungkinan karena curah hujan akhir-akhir ini tinggi. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banjir di Situbondo terjadi akibat tingginya debit air di Sungai Sampean Baru.
"Untuk itu, kami selalu berkomunikasi dengan penjaga Sungai Sampean Baru yang ada di Bondowoso sehingga setiap perkembangan bisa kami antisipasi. Kami juga selalu memantau ketinggian air di pintu V Sampean Baru," katanya.
Ia mengemukakan bahwa akibat debit air yang naik dari biasanya sekitar 2 meter itu, pengerjaan proyek di pintu V Sungai Sampean Baru terpaksa dihentikan dalam sebulan terakhir. Hal itu dilakukan agar pengerjaan proyek itu tidak sia-sia.
"Kalau airnya meninggi kan percuma dilakukan perbaikan, nanti rusak lagi. Terpaksa pengerjaan itu dihentikan dulu sambil menunggu perkembangan terbaru," kata Zainal.
Untuk antisipasi jika Kota Santri itu benar-benar dilanda banjir, pihaknya sudah menyusun tim satgas kesiagaan bencana yang dipimpinan oleh Kepala Staf Kodim Situbondo bersama dengan Wakil Kepala Polres.
"Saat ini satgas kesiagaan bencana itu sudah menyusun berbagai antisipasi, termasuk kemungkinan untuk mengevakuasi warga jika terjadi banjir," katanya.
Selain antisipasi banjir, BPBD Situbondo sebelumnya menyusun berbagai skenario jika Gunung Ijen di Bondowoso meletus. Dua desa di Kecamatan Asembagus dan Banyu Putih di Situbondo akan terdampak karena aliran airan air Kawah Ijen yang mengandung belerang dengan PH rendah.
"Tapi perkembangan terkahir, Gunung Ijen sudah menunjukkan penurunan kegempaan. Jadi sekarang kami waspada banjir," katanya. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.