Kediri - Sejumlah petani di Kabupaten Kediri mengaku kesulitan mencari pupuk terlebih lagi jenis urea saat musim tanam seperti ini, hingga terpaksa hanya menggunakan pupuk organik.
Eko, salah seorang petani asal Desa Mukuh, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, Sabtu, mengaku belum mendapatkan pupuk, terutama jenis urea. Padahal, saat ini ia sudah persiapan untuk penyemaian bibit.
"Saya cari sampai di Kras, Puncu, juga tidak ada, kosong. Di koperasi pun, juga sudah tidak ada," ucapnya.
Ia mengaku cukup resah dengan pupuk yang menghilang, khususnya saat musim tanam. Padahal, ia sangat membutuhkan pupuk, terutama urea untuk pertumbuhan tanamannya agar bisa berkembang dan produksi baik.
Terlebih lagi, ia juga mendengar jika harga pupuk urea saat ini naik dari semula Rp1.600 perkilogram atau Rp80.000 per karung (isi 50 kilogram) menjadi Rp1.800 perkilogram atau Rp90.000 per karung. Dengan itu, ia mengaku semakin sulit untuk dapat memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian tersebut.
Ia sempat ditawari oleh rekannya pupuk jenis urea. Namun, harga yang ditawarkan cukup tinggi, hingga Rp120.000 per sak. Padahal, pupuk itu adalah urea jenis lama, yang berwarna putih. Biasanya, dari 100 ru (1 hektare = 700 ru) ia membutuhkan pupuk hingga 1 kuintal 20 kilogram berupa campuran antara urea dan phonska. Namun, karena stok urea kosong, ia hanya mengandalkan dari phonska saja.
"Karena stok kosong, paling nanti menggunakan phonska dan SP36. Nanti juga ditambah dengan pupuk kandang, jadi berharap agar tanaman tumbuh bisa baik, walaupun tanpa urea," paparnya.
Ia juga mengaku harus berpikir keras untuk mencari dana tambahan persiapan musim tanam tahun ini. Selain harga pupuk, jenis urea yang ternyata naik, ia juga harus mengeluarkan ongkos besar untuk pembelian bibit maupun pengolahan lahan.
"Total per 100 ru biasanya saya habis ongkos antara Rp800 ribu sampai Rp1 juta. Namun, dengan kenaikan ini tentunya ongkos itu lebih tinggi," tuturnya.
Ia berharap, kualitas pupuk urea yang baru ini juga lebih baik lagi daripada yang lama. Dengan itu, petani seperti dirinya masih bisa mendapatkan kelebihan produksi dari hasil pertaniannya, bukan hanya mendapatkan harga beli pupuk yang mahal, melainkan bisa harga jual produksi yang tinggi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kediri, Widada Imam Santosa mengaku stok pupuk mencukupi. Pihaknya sudah koordinasi dengan seluruh distributor yang biasa mengirimkan pupuk ke pemilik kios dan stok aman.
"Kami menjamin stok aman, terutama saat musim tanam seperti ini. Kami sudah konfirmasi, stok di lapangan ada," kata Widada.
Menyinggung tentang kenaikan harga urea, Widada mengaku sudah meminta para distributor untuk melakukan sosialisasi. Diharapkan, para petani juga bisa memaklumi tentang kenaikan tersebut.
Ia menyebut, pada 2012 ini pengajuan pupuk sudah dilakukan. Untuk jenis urea diajukan hingga 72.800 ton, SP36 hingga 12.500 ton, ZA hingga 40.500 ton, NPK hingga 40.200 ton, dan organik hingga 30.500 ton.
Pengajuan ini diperkirakan mencukupi untuk kebutuhan selama setahun musim tanam. Luas lahan di Kabupaten Kediri sekitar 56.000 hektare, hingga kebutuhan itu diperkirakan aman untuk luas lahan tersebut.
"Itu masih pengajuan, dan keputusan ada pada gubernur untuk persetujuan dari pengajuan itu. Tapi, kami tidak khawatir jika nanti di tengah tahun ada kekurangan, kami masih bisa mengajukan kembali untuk pupuknya," kata Widada.(*)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.