Cilacap - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan dimulainya konstruksi (ground breaking) proyek pemanfaatan residu atau "residual fluid catalytic cracking" (RFCC) senilai 1,4 miliar dolar AS di Kilang Cilacap, Jateng milik PT Pertamina (Persero), Rabu. Pada acara yang dilakukan di Kilang Cilacap, Presiden Yudhoyono sekaligus meresmikan pengoperasian tiga pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero) di Jawa senilai 2,2 miliar dolar AS dengan total daya 1.600 MW. Ketiga PLTU itu adalah Suralaya Baru, Banten 1x625 MW, Lontar, Banten Unit 1 dengan kapasitas 1x315 MW dan Tanjung Jati B Ekstensi, Jepara, Jateng Unit 3, 660 MW. Presiden juga melakukan video konperensi jarak jauh dengan Direksi PLN yang berada di tiga lokasi PLTU yang diresmikan tersebut. Hadir pada acara di Cilacap antara lain Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Menko Pulhukam Djoko Suyanto, Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Mensesneg Sudi Silalahi, Menhub EE Mangindaan, Gubernur Jateng Bibit Waluyo, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, dan Duta Besar Korea Selatan Kim Young-sun. Sementara, di Suralaya, hadir Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan Dirut PLN Nur Pamudji, di Jepara antara lain Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo, Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih dan Direktur Operasi Jawa-Bali Ngurah Adnyana, serta di Lontar hadir Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman dan Direktur Konstruksi PLN Nasri Sebayang. Presiden Yudhoyono mengatakan, pemerintah akan membangun banyak proyek energi dengan tujuan memenuhi kebutuhan masyarakat ke depan. "Kalau ada kelebihan, baru bisa dipasok keluar," katanya. Pemerintah, lanjutnya, juga akan mendistribusikan energi dengan tepat dengan membangun sistem distribusi yang baik. Pada kesempatan itu, Presiden meminta agar terus dilakukan penghematan energi dan membangun proyek energi yang ramah lingkungan. "Jadi, selain ketahanan juga kehematan energi," ujarnya. Dirut Pertamina Karen Agustiawan mengatakan, nilai investasi proyek RFCC Cilacap mencapai 1,4 miliar dolar AS. "Proyek ini sesuai kontrak akan dikerjakan selama 36 bulan atau selesai pada kuartal keempat 2014. Namun, kami akan meminta percepatan yakni selesai kuartal ketiga 2014," katanya. RFCC merupakan salah satu proyek yang masuk dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Proyek akan menghasilkan premium beroktan tinggi 1,9 juta kiloliter per tahun, elpiji 352 ribu ton per tahun dan propilen 142 ribu ton per tahun. Sementara, Dirut PLN Nur Pamudji mengatakan, pengoperasian tiga proyek PLTU setara penghematan BBM sebesar Rp19,9 triliun per tahun. "Ketiga pembangkit akan menambah pasokan listrik ke sistem interkoneksi Jawa-Bali, sehingga meningkatkan keandalan sistem," paparnya. Saat ini, beban puncak rata-rata di sistem kelistrikan Jawa Bali mencapai 19.700 MW. Dengan beroperasinya tiga pembangkit, maka sampai akhir tahun 2011 daya mampu di sistem Jawa Bali menjadi 23.000 MW.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026