Malang - Keberadaan sapi potomg di wilayah Malang Raya (Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu) mulai langka akibat minimnya pasokan dan semakin berkurangnya sapi betina di wilayah itu.
Salah seorang penjagal dari Himpunan Pedagang Muslim Indonesia (HPMI) Kota Malang M Fauzi, ketika mengadu ke DPRD Kota Malang, Selasa mengaku, karena sapi jantan sudah langka, maka sapi betina pun juga dipotong untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.
"Sekarang sapi betina pun juga langka dan akibatnya tidak ada perkembangan (pertumbuhan) sama sekali, bahkan semakin berkurang. Dampaknya, harga daging sapi juga semakin mahal," tegasnya di gedung DPRD Kota Malang.
Ia mengaku, akibat dari semakin minimnya sapi yang dipotong, maka banyak jagal yang gulung tikar. Dari sekitar 50 orang jagal di Kota Malang, sekarang tinggal 40 orang saja.
Kelangkaan sapi potong di Malang Raya, katanya, tidak hanya disebabkan banyaknya sapi betina yang dipotong, namun juga banyak sapi dari wilayah Malang yang dijual ke luar Malang, bahkan ke luar Jatim.
Oleh karena itu, tegasnya, pemerintah harus mencegah dan menghentikan pemotongan sapi betina tersebut, agar tidak terus berlangsung dan keberadaannya semakin langka.
Berdasarkan data yang disampaikan HPMI ke Komisi A DPRD Kota Malang bahwa sedikitnya ada 100 sapi betina yang dipotong setiap hari, baik yang dipotong di rumah pemotongan hewan (RPH) Kota Malang, Kota Batu maupun Kabupaten Malang.
"Kami terus berupaya untuk tidak memotong sapi betina, namun jika tidak, maka konsumsi daging sapi bagi masyarakat tidak akan terpenuhi. Oleh karenanya, kondisi ini harus segera diatasi," tegasnya.
Menanggapi keluhan para jagal dari HPMI tersebut Ketua Komisi A DPRD Kota Malang Arif Wahyudi mengatakan, pihaknya akan mengirimkan surat keluhan para jagal tersebut ke Gubernur Jatim Soekarwo.
"Akan segera kami tindaklanjuti keluhan mereka. Dan, kami juga akan memanggil dinas terkait guna mencari solusi terkait kelangkaan sapi potong di daerah ini," kata politisi dari PKB tersebut.
Sementara harga daging sapi di pasar tradisional saat ini memang mengalami kenaikan cukup signifikan. Jika sebelumnya seharga Rp58 ribu-Rp60 ribu per kilogram, sekarang bisa mencapai Rp75 ribu/kilogram.(*)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.