Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Perputaran ekonomi selama Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi masyarakat di kabupaten setempat mencapai Rp25,3 miliar.

"Berdasarkan hasil pendataan Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo hingga hari tasyrik terakhir, tercatat sebanyak 3.899 ekor ternak dipotong di 184 titik pemotongan yang tersebar di berbagai kecamatan," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Diperta Kabupaten Probolinggo Nikolas Nuryulianto, Minggu.

Menurutnya, jumlah tersebut menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan ibadah kurban sekaligus menjadi indikator perputaran ekonomi yang cukup besar selama momentum Hari Raya Kurban tahun 2026.

Dari total tersebut, ternak sapi tercatat sebanyak 689 ekor yang terdiri dari 603 ekor sapi jantan dan 86 ekor sapi betina, sementara untuk domba mencapai 2.499 ekor yang terdiri dari 2.471 ekor domba jantan dan 28 ekor domba betina. Sedangkan kambing sebanyak 711 ekor yang terdiri dari 703 ekor kambing jantan dan 8 ekor kambing betina.

"Jika dihitung berdasarkan rata-rata harga ternak di lapangan, perputaran ekonomi yang terjadi selama Idul Adha tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp25.347.500.000," tuturnya.

Ia mengatakan hal itu menunjukkan bahwa momentum kurban tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat dengan estimasi harga rata-rata sapi jantan sekitar Rp25 juta per ekor dan sapi betina sekitar Rp22 juta per ekor.

"Dengan jumlah 603 ekor sapi jantan dan 86 ekor sapi betina, maka nilai transaksi sektor sapi diperkirakan mencapai hampir Rp17 miliar," katanya.

Sementara untuk domba, perhitungan menggunakan harga rata-rata Rp2,5 juta per ekor, meskipun di lapangan harga sebenarnya berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp6 juta. Dengan jumlah 2.499 ekor, nilai transaksi domba diperkirakan mencapai lebih dari Rp6,2 miliar.

Sedangkan kambing yang terdata sebanyak 711 ekor dan dihitung menggunakan harga rata-rata Rp3 juta per ekor sehingga menghasilkan nilai transaksi lebih dari Rp2,1 miliar.

"Angka itu masih berupa estimasi konservatif karena kami menggunakan harga rata-rata yang relatif rendah dibandingkan harga jual riil di lapangan, sehingga nilai ekonomi yang sebenarnya bisa lebih besar,” katanya.

Melalui pola pelaporan tersebut, proses pendataan menjadi lebih cepat, akurat dan menjangkau lebih banyak lokasi pemotongan hewan kurban.

“Kami berharap ke depan semakin banyak titik pemotongan yang dapat terdata sehingga informasi terkait jumlah ternak kurban dan kondisi kesehatannya bisa semakin lengkap,” ujarnya.

Niko menilai momentum Idul Adha membuktikan bahwa sektor peternakan memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah. Selain menggerakkan perdagangan ternak, kegiatan kurban juga memberikan dampak ekonomi bagi pedagang pakan, jasa transportasi, rumah potong hewan hingga pelaku usaha pendukung lainnya.

“Idul Adha ternyata benar-benar menggerakkan perekonomian masyarakat. Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang ada, perputaran uang lebih dari Rp25 miliar menunjukkan bahwa sektor peternakan tetap memiliki peran strategis bagi Kabupaten Probolinggo," katanya.



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026