Oleh Ayu Citra Sukma Rahayu
Surabaya - Sejak dinobatkan UNESCO per tanggal 2 Oktober 2009 sebagai warisan budaya dunia, kini Batik Indonesia kian menunjukkan taringnya di pasar perdagangan internasional, sehingga menarik banyak perhatian berbagai kalangan masyarakat baik generasi muda maupun tua.
Mereka juga semakin bangga mengenakan pakaian berbahan kain batik di segala kegiatan seperti jalan - jalan di pusat perbelanjaan, menghadiri undangan pernikahan sejumlah kolega maupun busana kerja, sampai agenda kenegaraan Presiden.
Selain itu, kedatangan Orang Pertama di Amerika Serikat Barrack Obama kesekian kalinya di Indonesia pada bulan November mendatang telah dipersiapkan secara detil, termasuk pakaian yang akan dikenakan yakni beberapa potong pakaian batik produksi asli Tanah Air.
Kini, beragam corak batik yang memberi warna baru terhadap tren model pakaian di Indonesia seakan menghipnotis Pemerintah Pusat dan mewajibkan seluruh pegawai negeri memakai pakaian batik setiap hari tertentu.
Kondisi tersebut, sekaligus berdampak positif kepada atmosfer bisnis perdagangan batik, baik yang dilakukan pengusaha skala kecil, menengah, maupun besar di dalam negeri.
Salah satunya, pedagang aneka pakaian batik di lantai tiga Pusat Grosir Surabaya (PGS), Turki, mengemukakan, selalu menerima banyak permintaan pasar terhadap pakaian batik yang dijualnya. Saat ini, besaran penjualannya mengalami peningkatan hingga 90 persen jika dibandingkan pencapaian sebelum adanya pengukuhan Batik Indonesia oleh UNESCO sebagai warisan negeri ini.
Tak ayal, pakaian batik maupun kain batik yang dilepasnya dengan harga ratusan ribu tersebut laris manis di pasaran. Mayoritas pembeli berasal dari kalangan domestik seperti Jakarta, Bandung, Ambon, Papua, NTT, dan NTB.
"Kami bangga bisa menjual batik karena keberadaannya sudah diakui masyarakat internasional. Kalau dulu, kami susah memperdagangkannya mengingat stigma konsumen batik hanya orang tua, sedangkan sekarang anak muda banyak yang beli," ucapnya, ditemui di Surabaya.
Mengenai batik yang banyak dicari masyarakat, rinci dia, selama ini mereka lebih menggemari batik tulis karena pewarnaan dan corak batiknya lebih menunjukkan sikap nasional serta jarang memiliki kesamaan dengan batik lain.
"Sementara, beberapa konsumen ada yang masih membeli batik 'printing' karena harganya lebih terjangkau. Kalau harga jual batik tulis memang cenderung mahal karena prosesnya memerlukan waktu lama," tukasnya.
Terkait perkembangan bisnis batik di Jawa Timur, angka pertumbuhan pengusaha batik di provinsi ini semakin meningkat 20 persen pascapenetapan UNESCO dua tahun lalu (2009). Dengan kata lain, perjalanan usaha tersebut di Jatim maupun nasional telah mencapai posisi teratas saat ini.
Pengaruh lain, juga terlihat dari jumlah desain batik tulis yang banyak dijumpai di 38 kabupaten/kota di Jatim. Masing - masing daerahnya mampu memiliki sekitar 100 hingga 200 desain batik tulis dengan karakteristik kelokalan yang berbeda dan khas. Contoh, Bangkalan mempunyai sekitar 120 desain batik tulis.
"Sampai sekarang, desain batik tulis di Jatim ada sebanyak 1.120 desain. Keberadaannya juga tercatat dalam Rekor MURI pada pertengahan 2011," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jatim, Budi Setiawan.
Ribuan desain batik tersebut, urai dia, di antaranya Batik Manggur (Mangga Anggur) khas Probolinggo, Batik Pacitan yang dikenal dengan gambar daun Pace, dan Batik Magetan dengan ciri khas gambar bambu. Namun, dari ribuan desain batik tulis itu masyarakat sangat berminat membeli Batik Pacitan. Apalagi, kekhasan pewarnaan menggunakan bahan alami dan pembuatannya tidak merusak lingkungan. Warna merah dari daun jati dan warna hijau dari daun mangga.
"Dari pesona tersebut, muda-mudi saat ini gemar memadukan pakaian batiknya dengan celana jins," ulasnya.
Sementara, Jatim sebagai wilayah dengan perekonomian terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, juga memiliki desain batik tulis khasnya yakni bercirikan gambar ayam bekisar dan bunga teratai. Ayam Bekisar, dipilih sebagai lambang kekuatan karena hewan tersebut dikenal memiliki pendirian kokoh.
"Bunga teratai, dipilih oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur seiring sejarah flora tersebut pada masa Kerajaan Majapahit yang dianggap sebagai simbol perdamaian Nusantara," paparnya.
Untuk itu, yakin dia, batik khas Jatim dapat menjadi lambang perdamaian dunia dikarenakan banyaknya wisatawan asing maupun pebisnis dari pasar internasional yang berkunjung ke provinsi ini. Keoptimisan tersebut dilandasi filosofi batik sebagai warisan leluhur Bangsa Indonesia dan diproduksi dengan ketulusan hati.
"Membuat batik, terutama yang diproses secara tulis dan menggunakan canting tidak bisa sembarangan. Dalam prosesnya, hanya orang yang memiliki bakat khusus dan berkepribadian halus dapat menuangkan kreasinya menjadi batik," tuturnya.
Sampai sekarang, permintaan wisatawan mancanegara terhadap batik khas Jatim menunjukkan peningkatan 10 persen dibandingkan tahun 2009. Dominasi warga negara asing yang meminati batik Jatim berasal dari Jepang, China, Amerika Serikat, dan Thailand.
"Umumnya, wisatawan asing menyukai batik berwarna cerah seperti merah dan biru yakni batik asal Madura dan Tuban," paparnya.
Di sisi lain, terang dia, permintaan pasar dalam negeri juga tidak kalah dengan asing atau mengalami kenaikan antara 20 persen hingga 30 persen dibandingkan sebelum adanya pengukuhan UNESCO terhadap batik.
"Dari pasar domestik, mereka banyak membeli batik berwarna lembut seperti krem dan cokelat," Ia memprediksi, dengan semakin berkembangnya dunia perbatikan di Indonesia khususnya di Jatim dapat memiliki 3.000 desain batik sampai
akhir tahun 2011. Untuk mencapainya, kini Disperindag Jatim giat melakukan pendataan terkait potensi industri batik, termasuk realisasi penambahan desain batik di wilayah kerjanya.
"Untuk mempertahankan batik sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia, kami rutin melakukan dan mengajak para pengusaha batik di Jatim menghadiri sejumlah pelatihan desain batik yang diadakan di masing - masing dinas perindustrian dan perdagangan setempat," tuturnya.
Di samping itu, ia meminta, perajin selalu mempersiapkan warna yang dipakai dalam pewarnaan memakai bahan alami. Bahkan, pihaknya siap mendidik beberapa perajin, sehingga menjadi pusat penyediaanwarna batik berbahan nonkimia. Disperindag Jatim juga memiliki strategi pemasaran batik Jatim di pasar internasional seperti rutin mengikutsertakan pengusaha batik memamerkan karyanya di pameran yang juga dihadiri peserta dari berbagai negara.
Pertahankan "Ceceg"
Menyikapi besarnya angka belanja masyarakat terhadap batik di Jatim, Gubernur Jatim Soekarwo membenarkan, selama ini belanja pakaian mendominasi biaya pengeluaran masyarakat seiring besarnya minat pasar perdagangan provinsi ini untuk mempercantik penampilan.
"Daya beli masyarakat untuk belanja memang sangat tinggi termasuk batik," kata pria yang akrab disapa Pakdhe Karwo.
Kini, ia menilai, banyak jenis pakaian yang diproduksi pengrajin Jatim semakin mempunyai berbagai variasi dan kekhasan karakter sangat kuat. Untuk itu, pihaknya berharap seluruh produsen batik Jatim mengembangkan aneka produk mereka.
"Khusus batik, kami imbau mempertahankan 'ceceg' (pelataran)-nya supaya lebih kaya karena kain batik yang penuh corak sangat disukai pasar. Upaya itu sekaligus solusi diberlakukannya perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China 'ACFTA' di mana memudahkan batik 'printing' China membanjiri pasar nasional," imbuhnya.
Masih dikatakan Soekarwo, catat dia, besarnya minat pasar mengonsumsi pakaian di Jatim membantu provinsi ini membukukan Rp520 triliun dari total konsumsi masyarakat untuk segala kebutuhan mencapai Rp778 triliun.
Besaran konsumsi masyarakat Jatim tersebut juga digunakan untuk belanja pakaian dan salah satunya batik. Bahkan, dana konsumsi itu dialokasikan untuk kebutuhan pariwisata.
Di sisi lain, terkait pasar batik Jatim di skala internasional, tambah dia, sampai sekarang menunjukkan perluasan jangkauan pasar sampai ke beberapa negara di Benua Eropa maupun sejumlah negara di Benua Asia.
"Contoh, masyarakat Malaysia dan Brunei Darussalam juga sangat menyukai produk batik Jatim," katanya.
Ia optimistis, dengan semakin pesatnya perkembangan usaha batik di Jatim maka angka pertumbuhan perekonomian wilayah kerjanya dapat terealisasi melebihi pencapaian nasional atau mencapai 7 persen sesuai target pada awal tahun 2011. Untuk mencapai pertumbuhan itu, ia menyarankan, pelaku usaha batik di Jatim bisa memanfaatkan dana di PT Jamkrida sebagai sarana membantu permodalan usahanya.
"Mereka bisa mengajukan kredit seperti dari PT Jamkrida supaya bisnisnya ke depan makin menumbuhkan omzet signifikan sehingga menyumbang kontribusi tersendiri bagi provinsi ini," harapnya.(antara.ayu@gmail.com)
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.