Oleh Slamet Hidayat Sumenep - Kasus terbaliknya perahu motor "Putri Tunggal" di perairan antara Pulau Tonduk dan Guagua, Kecamatan Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (24/9) pagi yang mengakibatkan 13 penumpang tewas, mengingatkan warga setempat akan tragedi serupa pada 2006 lalu. Pada 1 November 2006 lalu, perahu yang biasanya untuk memancing ikan digunakan mengangkut 21 orang dan selanjutnya terbalik di Perairan Samor Tasek, Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi. Akibatnya, 11 penumpang perahu yang berangkat dari pelabuhan rakyat Kroppo, Kecamatan Raas, Pulau Raas, itu, ditemukan tewas dan 10 lainnya selamat. "Kecelakaan laut seperti itu selalu berpotensi terjadi di wilayah kepulauan, karena perahu merupakan sarana transportasi antarpulau kecil yang biasa digunakan oleh warga kepulauan, termasuk Raas," kata anggota DPRD Sumenep asal Pulau Raas, Miftahurrahman. Ia menjelaskan, kasus terbaliknya perahu motor "Putri Tunggal" di perairan antara Pulau Tonduk dan Guagua memang mengingatkan warga Raas akan kecelakaan laut yang pernah terjadi pada 2006 lalu. "Saat itu, korban tewas yang mencapai 11 orang menjadi kecelakaan laut dengan korban terbanyak dan ternyata pada tahun ini terulang lagi dengan korban meninggal dunia yang lebih banyak," ujarnya. Miftahurrahman berharap Pemerintah Kabupaten Sumenep segera melakukan langkah nyata untuk mencegah terulangnya kecelakaan laut dengan korban tewas dalam jumlah banyak. "Kecelakaan itu memang takdir. Namun, pemerintah tidak boleh tinggal diam. Kecelakaan laut yang mengakibatkan korban banyak jangan dibiarkan dan dianggap sebagai peristiwa alam yang biasa. Segera lakukan langkah nyata untuk mencegah kasus serupa terjadi lagi pada tahun-tahun mendatang," ucapnya. Ia meminta pihak terkait di Pemkab Sumenep segera mendata jumlah perahu yang selama ini digunakan sarana transportasi massal oleh warga kepulauan. "Harus ada pendataan lebih dulu dan selanjutnya dilakukan penetapan perahu-perahu itu sebagai sarana transportasi massal. Selama ini, perahu 'taksi' (yang digunakan sebagai sarana transportasi massal antarpulau kecil) tampaknya tidak mendapat perhatian dari pemerintah daerah," paparnya. Kalau sudah ada data dan penetapan perahu tersebut sebagai sarana transportasi massal layaknya mobil penumpang umum (MPU) di daratan, diharapkan pemerintah membina para pemilik perahu sekaligus mengawasinya. Sosialisasi supaya para pemilik perahu "taksi" mengedepankan kenyamanan dan keselamatan para penumpangnya harus dilakukan oleh pemerintah daerah. "Selanjutnya pemerintah daerah harus memberikan bantuan semisal peralatan keselamatan bagi penumpang, seperti pelampung. Untuk langkah awal, pemerintah daerah sebaiknya memberikan bantuan fasilitas keselamatan seperti pelampung kepada para pemilik perahu," katanya. Ia menjelaskan, pencegahan kecelakaan laut memang tidak mungkin hanya dilakukan oleh pemerintah daerah secara mandiri. "Kesadaran warga kepulauan untuk tidak memaksakan naik perahu dengan kapasitas berlebihan, juga merupakan hal yang sangat penting. Selama ini, warga kepulauan memang sering terlihat mengentengkan persoalan tersebut dengan asumsi biasa berada di laut," ujarnya, menambahkan. Selain itu, pemerintah daerah juga harus memaksimalkan koordinasi atau kerja sama dengan jajaran kantor syahbandar maupun kantor wilayah kerja pelabuhan yang berada di Sumenep. "Pengawasan perahu yang mengangkut penumpang membutuhkan pihak lain di luar pemerintah daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah juga wajib mendorong jajaran kantor syahbandar memeriksa secara ketat perahu yang mengangkut penumpang sebelum berangkat (berlayar)," ucapnya. Namun, langkah yang harus dilakukan pemerintah daerah sebelum mendorong jajaran kantor syahbandar dan kantor wilayah kerja pelabuhan melakukan pengawasan secara maksimal adalah penetapan perahu tertentu sebagai sarana transportasi massal. "Di luar perahu yang ditetapkan sarana transportasi massal, tidak boleh digunakan mengangkut penumpang atau orang secara komersial alias ditarik bayaran," paparnya. Miftahurrahman yang anggota Komisi C DPRD Sumenep juga mengemukakan, pemerintah wajib hadir untuk mengatur persoalan sarana transportasi massal antarpulau kecil yang selama ini diperankan oleh para pemilik perahu. "Kasus terbaliknya perahu motor "Putri Tunggal" harus dijadikan momentum oleh pemerintah daerah untuk ikut mengambil peran guna mencegah terjadinya kecelakaan laut dengan korban jiwa dalam jumlah banyak," katanya, menegaskan. Sementara Bupati Sumenep, A Busyro Karim menjelaskan, selama ini, sarana transportasi massal antarpulau kecil memang disediakan oleh warga setempat. "Hingga sekarang memang belum ada perusahaan pelayaran komersial yang mengoperasikan perahu dengan fasilitas peralatan keselamatan penumpang di jalur antarpulau kecil di Sumenep," katanya. Sumenep memiliki 27 kecamatan dan sembilan di antaranya berada di wilayah kepulauan. Kecamatan di wilayah kepulauan tersebut rata-rata memiliki desa maupun dusun yang merupakan pulau tersendiri. Sekadar contoh, dua dari sembilan desa di Kecamatan Raas adalah pulau tersendiri, yakni Tonduk dan Guagua. Sementara di Kecamatan Sapeken, jumlah desanya yang merupakan pulau tersendiri lebih banyak lagi, yakni tujuh dari sembilan desa. Selama ini, sarana transportasi massal antarpulau kecil itu berupa perahu milik warga setempat. "Kami akan berusaha untuk mengajak pihak ketiga atau investor menyediakan sarana transportasi massal berupa perahu yang representatif," ujarnya, menambahkan. Busyro juga akan menginstruksikan jajarannya di wilayah kepulauan untuk mengintensifkan sosialisasi guna menyadarkan para pemilik perahu yang selama ini menjadi operator sarana transportasi massal antarpulau kecil supaya tidak memaksakan mengangkut penumpang yang melebihi kapasitas angkut. "Kami juga meminta warga kepulauan untuk tidak memaksakan diri naik perahu, jika jumlah penumpangnya sudah melebihi kapasitas angkut. Harus ada kesadaran bersama," tuturnya. Ia juga mengemukakan, informasi yang diterima dari stafnya di Raas, kasus terbaliknya perahu motor "Putri Tunggal" diduga akibat kelebihan muatan dan kondisi cuaca laut yang kurang kondusif. "Kalau memang daya angkut perahunya hanya 20 orang, tolong jangan memaksakan diri mengangkut penumpang di atas 20 orang. Kami sangat tidak ingin kasus serupa terulang pada masa mendatang," kata Busyro, menegaskan. 13 Korban Tewas Pada Sabtu sekitar pukul 09.00 WIB, perahu motor "Putri Tunggal" yang mengangkut rombongan kerabat pengantin dari Pulau Guagua, terbalik di perairan antara Tonduk dan Guagua. Ketika itu, perahu yang dinahkodai Suryansah itu dalam perjalanan dari Tonduk ke Guagua. Data di Kepolisian Resor Sumenep, sebanyak 13 penumpang perahu naas tersebut ditemukan tewas dan 23 lainnya selamat. "Hasil pemeriksaan sementara dari para saksi, jumlah orang yang berada di perahu tersebut sebanyak 36 orang, dengan rincian 35 penumpang dan satu nahkoda. Sebanyak 13 penumpang ditemukan tewas dan 23 orang lainnya selamat, termasuk nahkoda," kata Kepala Bagian Operasional Kepolisian Resor Sumenep, Kompol Edi Purwanto. Namun, hingga sekarang polisi belum berani memastikan jumlah penumpang yang naik perahu tersebut. "Informasi sementara tentang jumlah penumpang sebanyak 35 orang itu sesuai hasil pemeriksaan dari para saksi. Namun, informasi yang beredar di kalangan warga setempat, jumlah penumpangnya memang 39 orang. Itu sedang kami dalami," ujarnya. Edi menjelaskan, personel tim dari Kepolisian Resor Sumenep yang dikirim ke Pulau Guagua telah memeriksa enam saksi dalam kasus tenggelamnya perahu tersebut. "Saksi yang sudah dimintai keterangan adalah para penumpang perahu tenggelam yang selamat. Sementara untuk nahkoda perahu, Suryansah, belum diperiksa, karena kondisinya masih gagap (syok)," ucapnya. Salah satu fokus pemeriksaan kepada saksi adalah jumlah penumpang perahu sebelum berangkat dari Pulau Tonduk ke Guagua. Sesuai data di Kepolisian Resor Sumenep, 13 penumpang perahu motor "Putri Tunggal" yang ditemukan tewas adalah Suri (61), Kartini (41), Mahwiya (38), Yansuri (62), Patma (67), Norsani (55), Lisa (1), Ama (56), Mawar (35), Siti Amalia (11), Sawiya (70), Maskia (51), dan Sarah (2), semuanya perempuan dan warga Desa (Pulau) Guagua. Sementara 23 korban selamat adalah Halik (55), Samsul (57), Kahfi (49), Suryadi (39), Nurhasan (56), Junaidi (37), Herdiansyah (25), Mas'oda (42), Astutik (39), Ila (30), Siti Amina (38), Nurmanik (32), Mawiya alias Empik (39), Fauzi (25), Samsiya (49), Sandriadi (25), Rahlia (35), Irfan (2), Erhani (25), Innalia (50), Aminullah (56), Amriawan (34), dan Suryansah (42).


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026