Pacitan - Warga Lingkungan Kwarasan, Kelurahan Baleharjo, Kecamatan Pacitan mulai mengeluhkan dampak polusi udara maupun air yang ditimbulkan akibat limbah pembuangan darah serta kotoran dari rumah potong hewan (RPH), tak jauh dari pemukiman mereka.
"Bau tak sedap dari tempat itu (RPH) merebak hingga radius ratusan meter, dan ini jelas sangat mengganggu," ujar Kepala Lingkungan Kwarasan, Kelurahan Baleharjo, Kecamatan Pacitan, Bambang Sutrisno, Senin.
Ia menyebut, permasalahan tersebut sebenarnya berlangsung lama. Mereka juga telah menyampaikan komplain atau protes langsung ke dinas terkait, namun tidak kunjung mendapat tanggapan.
Mendapati respons yang tidak sesuai dengan harapan itu, warga awalnya hanya bisa pasrah. Namun, kekesalan mereka akhirnya mencapai puncaknya pada Rabu (31/8) atau hari "H" Lebaran 1432 H hingga sekarang.
Sebab, bau tak sedap yang muncul akibat limbah RPH semakin menjadi-jadi. Selain itu, lingkungan sekitar RPH juga menjadi becek dan kotor, sehingga membuat aktivitas anjangsana warga menjadi tidak nyaman.
"Dulu, aroma limbah dengan mudah menghilang cepat seiring datangnya musim hujan. Namun sekarang, saat musim kemarau seperti ini, bau tak sedap kian menyebar luas. Keluhan warga mencapai puncaknya saat Lebaran, banyak yang mengeluhkan (polusi udara)," ungkapnya.
Menurut Bambang, tahun 2009 lalu, pihaknya sudah melaporkan bau limbah itu ke dinas tanaman pangan dan peternakan setempat, namun saat itu belum ada tindakan konkrit.
Keluhan warga sangat beralasan. Sebab, RPH yang seharusnya dalam kondisi bersih ternyata terlihat kumuh dan tak terawat. Kesan tidak terawat paling tidak terlihat dari menumpuknya limbah dari kotoran hewan yang telah dipotong.
Selain itu, pada beberapa sudut tampak potongan organ dan bagian tubuh dari hewan yang sudah di potong berserakan dimana-mana, sehingga membusuk dan dikerubuti lalat bangkai, misalnya, lemak, potongan kaki dan ekor serta sisa kotoran sapi.
Tidak itu saja, sanitasi disekitar RPH juga buruk. Karena saluran pembuangan limbah mampet dan air sumur keruh.
Sugianto, warga lainnya mengungkapkan, bau tak sedap itu sudah sejak pertengahan bulan lalu. Apabila bau tak sedap tercium menyengat, sebenarnya petugas setempat kerapkali berupaya mengatasinya dengan cara menyemprot darah yang sudah mengering di saluran pembuangan menggunakan air.
Namun, karena "septik tank" sudah tidak mampu menampung, lalu dilakukan penyedotan. "Biasanya seperti itu, tapi sekarang belum ada penanganan," ujar Sugianto.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Pacitan, Pamuji mengakui jika warga Lingkungan Kwarasan kerap mengeluhkan limbah RPH tersebut.
Menurut dia, perlu pembenahan saluran dan bak pembuangan darah hewan yang dipotong. Namun, upaya itu belum dapat terealisasi tahun ini. Karena bersifat darurat, sebagai upaya pencegahan, dalam waktu dekat penyedotan maupun penyemprotan bak penampungan darah penyembelihan akan dilakukan.
"Belum ada anggaran, kemungkinan baru dilaksanakan tahun depan," jawabnya beralasan.
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026