Oleh Louis Rika Stevani Magetan - Jeruk Pamelo (populer dengan nama Jeruk Nambangan atau Bali) merupakan salah satu komoditas andalan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Buah berasa segar manis ini menjadi primadona untuk mendongkrak perekonomian petani daerah setempat karena pasarnya yang telah menembus skala nasional. Sentra tanaman jeruk pamelo terdapat di empat kecamatan yang disingkat dengan nama kecamatan "Betasuka", yakni Kecamatan Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan. Akan banyak dijumpai kebun jeruk pamelo di wilayah empat kecamatan tersebut. Salah satu sentra produksi jeruk pamelo di Kabupaten Magetan adalah di Desa Tambak Mas, Kecamatan Sukomoro. Di desa ini terdapat empat kelompok tani jeruk pamelo yang kegiatannya di bawah pembinaan dinas pertanian setempat. "Panen jeruk pamelo biasanya berlangsung pada bulan April hingga Juni, setiap tahunnya. Hasil panenan jeruk pamelo tahun ini agak turun akibat serangan hama lalat buah," ujar anggota kelompok tani jeruk pamelo Magetan "Sumber Mas" di Desa Tambakmas, Kecamatan Sukomoro, Sukar. Ia menjelaskan, para petani jeruk pamelo di daerah Sukomoro dan sentra lainnya telah lama membudidayakan tanaman ini. Awalnya, petani di daerah ini tidak dapat menanam padi karena jenis tanahnya yang tergolong keras. Hingga akhirnya, ada seorang perintis yang mengenalkan pembudidayaan jeruk pamelo ke penduduk sekitar. Alhasil, komoditas jeruk yang penanamannya dimulai sekitar tahun 1950 ini, telah menjadi ciri khas bagi penduduk di daerah Sukomoro dan Kabupaten Magetan pada umumnya. Meski telah puluhan tahun dikembangkan, namun petani menilai kendala tetap terdapat pada hal pemasaran. Petani jeruk di sentra jeruk pamelo Kabupaten Magetan, masih kesulitan memasarkan sendiri hasil panenan mereka. Hingga saat ini, pemasaran pamelo masih dilakukan oleh pedagang pengepul lokal secara perorangan. "Cara penjualan kami tradisional. Biasanya buah jeruk yang sudah siap panen langsung dibeli dengan harga yang disepakati kedua oleh pihak atau disebut dengan sistem 'tebasan'. Meski akhirnya dijual ke luar kota seperti Semarang dan Jakarta, namun keuntungan kami belum maksimal," terang Sukar. Bahkan menurut dia, sejumlah pengepul terkadang membeli ketika buah belum saatnya panen. Pihaknya sangat berharap agar pemasaran jeruk pamelo dapat dilakukan secara profesional melalui kontrak kerja sama. "Kami ingin, pemasaran jeruk kami diperhatikan oleh pemda setempat agar harga jualnya tinggi. Sehingga kami juga untung," ucapnya, berharap. Lebih lanjut ia menjelaskan, manajemen pengolahan dan pemasaran jeruk pamelo setelah panen yang belum maksimal ini membuat harga jual jeruk di tingkat petani berbeda jauh dengan harga jual di tingkat konsumen yang telah mencapai pasar swalayan ini. Harga di tingkat petani sampai ke tangan konsumen memiliki rentang yang cukup tinggi. Hingga saat ini, negosiasi langsung antara pasar swalayan dengan petani atau pemda setempat belum ada. Para pembeli partai besar atau pasar swalayan, masih mendapat pesanan melalui pedagang besar yang juga membeli dari pedagang pengumpul. Kurang Promosi Kepala Dinas Pertanian Magetan, Edy Suseno, mengakui jika keluhan dari petani tersebut dipengaruhi juga oleh kurangnya promosi dari Pemerintah Kabupaten Magetan. Meski demikian, pihaknya didukung dengan pihak terkait terus berupaya untuk meningkatkan komoditas asli Magetan ini. "Kami tidak bisa melakukan dengan serta merta, untuk memutus mata rantai pemasaran yang cukup panjang. Hal ini karena masih banyak petani yang lebih suka menjual jeruknya dengan sistem tebasan. Sistem tebasan ini dapat merusak harga jeruk di pasar," ujar Edy. Guna menanggulangi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Magetan berencana membangun pasar khusus untuk jeruk pamelo di wilayah Kecamatan Sukomoro. Diharapkan, pasar ini nantinya bisa menjadi pusat sentra jeruk pamelo, dimana para petaninya dapat langsung menjual di pasar tersebut. "Rencana ini masih dibahas ulang, diharapkan dapat dioperasikan pada tahun 2012 mendatang," terang Edy Suseno. Selain itu, untuk membantu para petani jeruk pamelo, pada tahun 2010, Dinas Pertanian Magetan telah melakukan peremajaan pohon jeruk pamelo sebanyak 2.002 bibit. Hal ini karena kebanyakan pohon jeruk pamelo di Magetan sudah usia tua, sehingga dapat memengaruhi produktivitas buah. "Peremajaan pohon jeruk pamelo pada tahun 2011, direncanakan sebanyak 8.500 bibit. Bibit ini akan dibagiakn ke petani pada akhir tahun ini bersamaan dengan musim hujan yang bertepatan dengan masa berbunga pamelo," tambahnya. Data Dinas Pertanian setempat mencatat, saat ini, populasi jeruk pamelo di Magetan telah mencapai 582.845 pohon, yang tersebar di sentra pengembangan pamelo, yakni di Kecamatan Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan, dengan luas wilayah mencapai lebih dari 450 hektare. Rata-rata setiap hektarenya tertanami 1.300 pohon jeruk.


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026