Surabaya - Program optimalisasi kapasitas produksi sejumlah pabrik gula yang dikelola PT Perkebunan Nusantara XI belum bisa dilakukan secara maksimal, karena tidak adanya dukungan lahan budi daya tebu. Sekretaris Perusahaan PTPN XI, Adig Suwandi, kepada wartawan di Surabaya, Jumat, mengatakan, dukungan lahan budi daya tebu menjadi syarat mutlak untuk pengembangan pabrik gula (PG), agar kebutuhan bahan baku produksi bisa terpenuhi. "Kami sudah merencanakan peningkatan kapasitas produksi beberapa PG, tapi masih belum bisa optimal karena tidak ada dukungan lahan tebu," katanya. Ia mencontohkan, PG Djatiroto di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, yang secara bisnis sebenarnya lebih menguntungkan, apabila kapasitas produksinya ditingkatkan dari 5.500 menjadi 10.000 ton tebu per hari (TCD). Namun, PTPN XI hanya meningkatkan kapasitas produksi menjadi 7.500 TCD, karena tidak ingin mematikan tiga PG lain yang berada di Kabupaten Probolinggo, yakni PG Wonolangan, Gending dan Parjarakan. "Kalau PG Djatiroto dipaksakan sampai 10.000 TCD, tiga PG di Probolinggo yang selama kekurangan bahan baku tebu bisa tidak beroperasi. Saat ini, surplus sebanyak satu juta ton tebu dari PG Djatiroto dibagi merata untuk ketiga PG tersebut," ujar Adig. Penundaan optimalisasi kapasitas produksi juga dilakukan pada PG Assembagoes di Kabupaten Situbondo, dari 3.000 menjadi 5.500 TCD dengan alasan yang sama. "Kami belum punya solusi bahan baku untuk tiga PG lain di Situbondo, kalau kapasitas produksi PG Assembagoes ditingkatkan," tambahnya. Tiga PG lain yang selama ini mendapat limpahan bahan baku tebu dari PG Assembagoes, adalah PG Pandjie, Olean dan Wringinanom. Menurut Adig, saat ini penyebaran kawasan budi daya tebu tidak merata, sehingga sejumlah PG masih mengalami kekosongan kapasitas. PG-PG di Jatim yang sebagian besar dibangun pada masa pemerintah Kolonial Belanda, kapasitasnya tidak terlalu besar dan jaraknya terlalu dekat, sehingga sulit dikembangkan. "Kalau sekarang ada rencana membangun PG baru, sebaiknya diarahkan pada daerah yang belum ada PG-nya. Namun, pembangunan juga harus dimulai dari pengadaan kebun tebu, minimal bisa memenuhi 60 persen kapasitas terpasang untuk giling selama 180 hari," kata Adig Suwandi. Sebelumnya, pemerintah berencana membangun empat PG gula baru di wilayah Jatim, masing-masing Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Pulau Madura. "Di daerah itu sangat potensial untuk pengembangan tebu dan perluasan lahan," kata Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurti, usai diterima Gubernur Jatim, Soekarwo, di Surabaya, Selasa (12/7).


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026