94 ibu hamil di Kabupaten Tulungagung terinfeksi hepatitis B

id hepatitis B,ibu hamil tulungagung,hepatitis tulungagung

94 ibu hamil di Kabupaten Tulungagung terinfeksi hepatitis B

ilustrasi - Bayi lahir di Tulungagung. (ANTARA/HO)

Bayi yang dilahirkan dari ibu menderita hepatitis B ini rentan tertular
Tulungagung (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mencatat sedikitnya 94 orang ibu hamil teridentifikasi menderita penyakit hepatitis B selama kurun 2018 hingga 2019.

Menurut penjelasan Kepala Seksi Penyakit Menular Dinkes Tulungagung Didik Eka di Tulungagung, Rabu, sebagian ibu hamil penderita hepatitis B itu telah melahirkan.

"Bayi yang dilahirkan dari ibu menderita hepatitis B ini rentan tertular dan membutuhkan penanganan khusus selambatnya 24 jam pascadilahirkan," tambahnya.

Baca juga: Masyarakat diimbau waspadai penularan hepatitis A selama kemarau

Untuk mencegah serta meminimalkan risiko penularan hepatitis, Dinkes Tulungagung menyiapkan vaksinasi Hb 0, HBIG dan vitamin K yang diberikan cuma-cuma. Vaksin dan vitamin ini sesuai prosedur harus diinjeksikan 12 jam setelah kelahiran atau paling lambat 24 jam.

"Dua belas jam merupakan merupakan masa paling efektif untuk memberikan vaksin hepatitis B, meskipun bisa diberikan selambatnya 24 jam pasca dilahirkan. Seluruh obat itu diberikan secara gratis oleh pemerintah," jelas Didik.

Hepatitis B keganasan virusnya 100 kali lebih berbahaya dibandingkan HIV. Seringkali penderita penyakit ini tidak mengetahui jika telah tertular penyakit yang menggerogoti hati ini. 70 persen orang baru mengetahui setelah menjadi kronis.

Setelah kronis, gejala umum yang terjadi kulit menjadi kuning, mual, mudah lelah dan terakhir organ hatinya terkena sirosis yang membuat fungsi hati berkurang.

Baca juga: Dinkes Jatim: Biasakan PHBS untuk hindari penyakit Hepatitis A

Jika HIV bisa mematikan penderitanya dalam kurun waktu sekitar 10 tahun sejak terinfeksi, hepatitis B hanya 2 hingga 3 tahun bisa menyebabkan penderitanya meninggal. Penularannya juga hampir sama dengan HIV.

"Melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, samalah dengan penularan HIV/AIDS," katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri saat ini mencanangkan program bayi bebas tiga jenis penyakit menular mematikan hingga 2030.

Hingga batas waktu yang telah ditentukan itu, pemerintah berharap tidak ada lagi bayi yang lahir dengan status tertular tiga jenis penyakit berbahaya, yakni HIV, sifilis dan hepatitis B.

Upaya ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan pemeriksaan ibu hamil secara intensif di puskesmas dan rumah sakit. Gerakan skrining aktif inilah yang kini gencar dilakukan jajaran Dinkes Tulungagung sejak 2018 hingga sekarang.
Pewarta :
Editor: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar