"Perkembangan teknologi selain memiliki dampak positif juga memberikan dampak buruk pada anak. Banyak anak yang hari-hari tak mau lepas dari ponsel. Ini tidak baik jika terus dibiarkan," kata Angga.Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Puluhan mahasiwa peserta program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Kadiri mencoba memperkenalkan kembali permainan tradisional anak kepada siswa-siswi TK dan SD di wilayah Tulungagung selatan.
Koordinator Desa mahasiswa KKN Uniska di wilayah Kecamatan Bandung, Minggu mengatakan, permainan tradisional menjadi salah satu program unggulan dalam kegiatan pengabdian masyarakat karena mempertimbangkan fenomena sosial anak yang banyak kecanduan gadget.
"Perkembangan teknologi selain memiliki dampak positif juga memberikan dampak buruk pada anak. Banyak anak yang hari-hari tak mau lepas dari ponsel. Ini tidak baik jika terus dibiarkan," kata Angga.
Kondisi itu yang kemudian direspon tim KKN Uniska di Kecamatan Bandung.
Meski hanya menggelar pengabdian selama 40 hari, kampanye pencegahan gadget dilakukan.
Mulai dari memberi edukasi kepada orang tua tentang efek negatif dari kecanduan gadget bagi anak, hingga menggelar permainan tradisional.
Kegiatan yang disebut terakhir, sebagaimana penjelasan Angga, lebih banyak digelar pada jam sekolah, serta di lingkungan desa sekitar pondok KKN.
Mulai dari permainan gedrek, seperenggan, encik, congklak atau dakon, cublak-cublak suweng, ular tangga, puzzle, hingga bekelan.
Meski banyak yang "gagap" dengan permainan tradisional itu karena belum pernah mengenalnya, namun para bocah itu terlihat gembira.
"Senang juga. Ini lebih sehat dan bisa menambah teman," kata Sagita Nurmiliyana, salah satu bocah.
Ucapan pelajar kelas VI SDN Bandung 2 itu juga diamini Faul Pratama dan pelajar lainnya.
Pihak SDN 2 Bandung yang menjadi salah satu lokasi permainan tradisional anak menyatakan akan aktif menyelenggarakan pelestarian permainan tradisional ini secara rutin.
Sebab permainan tradisional selain memberikan banyak manfaat juga menjadi bagian dari metode pembelajaran di sekolah.
"Dilakukan setiap waktu istirahat sehingga tidak mengganggu pembelajaran efektif di sekolah," kata guru kelas IV SDN 2 Bandung Umi Ambarwati. (*)
Pewarta: Destyan H. SujarwokoEditor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026