Rektor Unair: PR Utama Khofifah adalah Pembangunan Manusia

id Rektor unair, mohammad nasih, khofifah, gubernur jatim

Rektor Unair: PR Utama Khofifah adalah Pembangunan Manusia

Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Mohammad Nasih. (Humas Unair)

Kita tahu yang masih nyantol IPM-nya di Madura. Kesejahteraan itu ditentukan dua hal, yakni kesehatan dan pendidikan. Saya kira, dua ini yang perlu segera diselesaikan Bu Khofifah
Surabaya (Antaranews Jatim) - Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Mohammad Nasih mengatakan pekerjaan rumah untuk Khofifah Indar Parawansa saat resmi dilantik menjadi Gubernur Jawa Timur adalah pembangunan manusia.

"Saya melihat ada beberapa hal yang perlu diselesaikan Bu Khofifah. Terutama ada dua hal yang intinya jadi satu, yakni pembangunan manusia Jawa Timur," kata Nasih di kampus setempat, Senin.

Nasih menjelaskan, dua hal utama itu adalah pendidikan dan kesehatan yang menyokong pembangunan manusia di Jatim. Dimana masih ada beberapa daerah dengan indeks pembangunan manusia (IPM) yang cukup rendah.

"Kita tahu, yang masih nyantol IPM-nya di Madura. Kesejahteraan itu ditentukan dua hal yakni kesehatan dan pendidikan. Saya kira, dua ini yang perlu segera diselesaikan Bu Khofifah, sehingga menjadi modal pembangunan ke depan," ujar Nasih.

Bila dua hal ini nantinya dientaskan, kata Nasih, maka Jatim akan bisa bersaing dengan provinsi lain di Indonesia, bahkan dengan provinsi-provinsi lain di dunia.

"Bagaimana bisa bersaing kalau masyarakatnya masih sakit-sakitan. Masih banyak stunting, misalnya. Jadi kesehatan dan pendidikan itulah yang harus terentaskan dulu," ujarnya.

Sementara dalam hal birokrasi, Nasih berharap kepemimpinan Khofifah nanti akan menjadikan proses birokrasi di Jatim menjadi lebih baik lagi dan mampu bersinergi dengan dunia pendidikan.

Nasih menuturkan tidak ada harapan khusus darinya sebagai seorang akademisi. Pasalnya, tujuan utama dunia akademik di Jatim sama dengan pemerintah, yakni untuk menyejahterakan masyarakat.

"Bagi kami sebagai akademisi, pengungkit kemajuan itu tidak lagi bertumpu pada 'natural resource' tapi pada manusia yang otaknya sangat kreatif dan inovatif. Kalau manusianya terselesaikan, beres, tidak ada masalah dengan Jatim," katanya.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar