Jadi dokter dan perawatnya yang datang ke warga, bukan sebaliknya.
Banyuwangi (Antara Jatim) - Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada Minggu siang hingga sore berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk menjenguk sejumlah warganya yang sakit. 

"Ini sekaligus saya mengecek penanganan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, memastikan langsung bahwa setiap laporan ke SMS Center dan media sosial tertangani dengan baik," ujar Anas.

Kunjungan pertama dilakukan Anas ke rumah Nuraeni Ekayanti di Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, yang mengalami kanker indung perut. Nuraeni telah dirujuk ke RSUD Genteng dan segera dikemoterapi di RSUD dr Soetomo di Surabaya.

"Tinggal menunggu pemeriksaan besok (Senin, 6/3) untuk memastikan kesehatannya, setelah itu dirujuk ke Surabaya. Semua pengobatannya telah ditanggung oleh Pemkab Banyuwangi melalui mekanisme yang ada," kata Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Banyuwangi Widji Lestariono.

Selanjutnya Anas menjenguk Beny Susanto (9) di Desa Kaligondo yang menderita hidrosefalus. Setelah mendapat perawatan dan dioperasi, kondisi Beny makin membaik dan telah aktif bersekolah setelah sebelumnya terhambat.

Satu bulan yang lalu Beny telah dioperasi di RSUD Blambangan. Akibat penyakit hidrosefalus yang menyerang organ otak, bocah itu sebelumnya harus dirujuk ke Surabaya, namun kini sudah bisa ditangani di RSUD Blambangan Banyuwangi seiring dengan berbagai tambahan fasilitas di rumah sakit daerah yang naik ke Tipe B itu.

"Alhamdulillah, sekarang sudah tidak keluar cairan lagi dari matanya dan tak lagi mengeluh sakit kepala," kata Jamilah, ibunda Beny.

Anas mengatakan, strategi jemput bola efektif untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan warga. "Yang menarik adalah kemudian muncul semangat gotong-royong. Semuanya terpanggil, mulai kepala desa, pengurus RT/RW, PKK, komunitas, sampai pengusaha. Ini modal sosial yang bila dirawat dengan baik bisa menyelesaikan masalah. Tentu pemerintah berterima kasih, karena tanpa elemen lain, pemerintah tidak bisa berbuat optimal," ujar Anas.

Anas juga mengunjungi RM, warga perempuan berusia 14 tahun yang menderita tuna rungu dan kini sedang hamil karena mengalami kasus asusila. Permasalahan ini ditemukan setelah warga melapor ke "call center" Banyuwangi Children Center (BCC). Tim BCC yang juga melibatkan aparat hukum segera bergerak.

"Saya ingin menekankan, adik kita yang mengalami kekerasan seksual hingga hamil ini jangan dihakimi secara sosial. Jangan di-'bully'. Ini sekarang dalam pemantauan puskesmas, gizinya juga dipantau karena dalam kondisi hamil. Mentalnya dibangun lagi," ujar Anas.

Bupati Anas juga mengunjungi kediaman Ibu Mesiyem di Desa Tegalrejo. Selain memberikan bantuan sosial, Bupati Anas juga memastikan untuk memberikan bantuan bedah rumah. 

"Kami ingin memastikan alokasi dana desa yang disalurkan ke desa dari APBD Banyuwangi telah bisa meng-'cover' permasalahan seperti halnya Bu Masiyem ini,” ujar Anas.

Anas mengatakan, selama ini puskesmas-puskesmas sudah menjalankan program jemput bola ke rumah warga yang sakit, terutama warga miskin dan lansia.

"Jadi dokter dan perawatnya yang datang ke warga, bukan sebaliknya," ujarnya.

Menurut dia, program itu akan terus diintensifkan serta menjadi indikator tentang kinerja aparat bidang kesehatan di Banyuwangi. Evaluasi kinerja kepala puskesmas, kepala rumah sakit, dan kepala dinas kesehatan di antaranya akan ditentukan dari respons terhadap penanganan warga miskin yang sakit.

Anas mengatakan, model layanan jemput bola adalah bagian dari solusi layanan kesehatan bagi warga. Dia mencontohkan, warga lansia cukup kesulitan untuk berangkat ke puskesmas, apalagi lansia yang tinggal sebatang kara. 

Meski berobat dengan BPJS atau jaminan kesehatan daerah tidak berbayar, kata dia, warga miskin dan lansia terkadang kesulitan karena mengeluarkan biaya transportasi. "Karena itulah, petugas yang harus jemput bola," kata Anas.(*)


Pewarta: Masuki M. Astro
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026