Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya akan melakukan evaluasi guru terkait hasil rata-rata Ujian Nasional (UN) yang menurun ke posisi 26 se-Jatim.
Surabaya (Antara Jatim) - Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya akan melakukan evaluasi guru terkait hasil rata-rata Ujian Nasional (UN) yang menurun ke posisi 26 se-Jatim.

Kepala Disdik Surabaya, Ikhsan di Surabaya, Senin mengatakan, akan melakukan evaluasi terhadap guru terkait hasil ujian nasional, karena meski soal yang diujikan sama, namun hasilnya bisa berbeda. 

"Evaluasi akan dimulai dengan melihat posisi masing-masing sekolah, posisi sekolahnya dimana, di atas atau di bawah rata-rata. Kemudian, evaluasi akan dilakukan lebih mengerucut lagi per kelas dan per mata pelajaran," jelasnya.

Selanjutnya, ia menambahkan evaluasi dikembangkan lagi pada gurunya. Dari tahapan evaluasi itu akan diketahui kekurangan atau kelemahan yang harus diperbaiki.

"Jika ada kekurangan pada guru, maka kami sudah menyiapkan strategi tersendiri, yaitu dengan menggandengkan pelatihan guru pada Program Pemetaan dan Peningkatan Kompetensi Guru Surabaya (P2KGS)," ujarnya. 

Menurut dia, pola pemetaan dan peningkatan dalam evaluasi guru akan digunakan sama, sehingga melalui evaluasi tersebut, guru bisa mengetahui apa yang perlu dikembangkan. 

"Kekurangan guru nantu juga bisa diketahui, baik dari proses pembelajarannya atau dari mata pelajarannya. Jika kekurangannya ada pada proses pembelajaran, maka strategi mengajar perlu diperbaiki," tuturnya.

Ketua Komisi E DPRD Surabaya Agustin Poliana mengatakan, meski nilai ujian nasional jenjang SMP di Surabaya turun, namun dia melihat dari segi positif. 

"Ada sisi positif dari turunnya nilai UN Surabaya, yaitu nilai tersebut adalah nilai murni dari buah pikiran para peserta didik. Itu murni, tidak ada katrolan nilai, apalagi sekarang UNBK," terangnya.

Meski begitu, dia berharap ke depan nilai akademik para peserta didik bisa lebih terdongkrak. Selain jujur dan berintegritas melalui UNBK, nilai akademik juga harus mumpuni. 

Di Jawa Timur, dari empat mata pelajaran yang diujinasionalkan, rata-rata paling rendah adalah mata ujian matematika. Untuk jenjang SMP/MTs/SMP Terbuka rata-ratanya adalah 52,90, sedangkan untuk IPA nilai rata-ratanya 61,50. 

Disusul bahasa Inggris 61,50, dan bahasa Indonesia 73,55. Meski ada peserta yang nilainya sempurna yakni 100, namun ada juga siswa dengan nilai terendah 10. 

Bahkan, untuk matematika ada yang nilainya 7,5, sehingga evaluasi demi peningkatan kualitas nilai perlu dilakukan oleh masing-masing stakeholder.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kota Surabaya Endang Sri Renastutik menambahkan, mayoritas soal matematika sudah sesuai dengan standar kompetensi lulus (SKL). 

"Bobot kesulitannya cukup tinggi. Sebelum ujian nasional dimulai, berbagai upaya sebenarnya sudah dilakukan untuk mempersiapkan peserta didik agar siap menghadapi ujian nasional berbasis komputer (UNBK)," tandasnya. (*)


Pewarta: Laily Widya Arishandi
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026