Surabaya (ANTARA) - Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur (Jatim) Aries Agung Paewai menilai karya siswa SMKN 12 Surabaya dalam pameran seni telah berstandar industri, sebagai hasil evaluasi akhir kelas XII yang menunjukkan kesiapan masuk dunia kerja.
SMKN 12 Surabaya menggelar pameran seni pada 22-24 April 2026 sebagai bagian dari evaluasi akhir siswa yang diwujudkan dalam produk nyata.
"Ini bukan sekadar pameran, tapi bagian dari ujian praktik siswa. Mereka menghasilkan karya yang kualitasnya sangat tinggi, bahkan sudah masuk kategori industri, meski dikerjakan di lingkungan sekolah,” ujar Aries di Surabaya, Minggu.
Aries menyebut karya siswa mencerminkan hasil pembelajaran sesuai jurusan, mulai dari seni rupa, animasi, kriya, hingga seni lukis.
Beragam karya yang dipamerkan antara lain kerajinan logam seperti besi dan tembaga, kriya kayu, hingga lukisan, yang menunjukkan kompetensi siswa dalam bidang keahlian masing-masing.
Selain kualitas, pihaknya menyoroti tingginya minat pasar terhadap karya siswa, dengan sekitar 80 persen produk terjual selama pameran berlangsung.
“Ini baru murid, belum masuk industri sebenarnya, tapi sudah mampu menarik pasar. Artinya mereka punya potensi besar untuk bersaing di dunia usaha dan dunia industri,” kata Aries.
Menurut dia, capaian tersebut perlu diiringi peningkatan kompetensi serta penguatan sarana dan prasarana guna mendukung daya saing siswa, khususnya di sektor industri kreatif.
Disdik Jatim juga mendorong identifikasi kebutuhan sekolah sebagai dasar kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan pemangku kepentingan.
“Kami minta kepala sekolah dan guru mengidentifikasi kekuatan dan kekurangan. Dari situ nanti kita bisa menentukan dukungan yang dibutuhkan untuk meng-upgrade kualitas pendidikan,” ujarnya.
Aries berharap SMK Negeri 12 Surabaya dapat menjadi rujukan bagi sekolah lain dalam pengembangan pendidikan berbasis seni dan industri kreatif.
Menurutnya, sektor industri kreatif Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengembangan produk khas bernilai jual tinggi, terutama di luar sektor kuliner.
“Kita masih didominasi produk kuliner, sementara produk kreatif khas daerah, seperti kerajinan dan suvenir, belum optimal. Padahal ini punya peluang besar,” ujarnya.
Ia mencontohkan karya siswa berupa boneka dari limbah kulit yang diolah menjadi produk artistik bernilai ekonomi tinggi sebagai inovasi yang menjanjikan.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.