Dengan jaring, kami tidak perlu melaut dan cukup membentangkan jaring di sekitar pantai. Hasilnya tidak sebesar melaut, tetapi bisa menjadi solusi saat musim paceklik,
Jember (Antara Jatim) - Pada saat musim paceklik, sebagian nelayan di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, beralih menggunakan alat jaring karena minimnya pasokan ikan selama musim pancaroba disertai cuaca ekstrem belakangan ini.

"Dengan jaring, kami tidak perlu melaut dan cukup membentangkan jaring di sekitar pantai. Hasilnya tidak sebesar melaut, tetapi bisa menjadi solusi saat musim paceklik," kata salah seorang nelayan Puger, Imam Fauzi, di Jember, Selasa.

Nelayan yang menggunakan alat perahu jenis payang tersebut sudah beralih menggunakan jaring sejak Januari 2016 karena musim paceklik yang mengharuskan menggunakan alat tangkap lainnya untuk mendapatkan ikan.

"Alhamdulillah saat ini hanya musim paceklik bagi nelayan yang menggunakan payang, namun untuk nelayan yang menggunakan jaring dan alat pancing masih bisa mendapatkan ikan," tuturnya.

Menurutnya, nelayan tidak berani melaut karena cuaca buruk dapat menghancurkan perahu payang yang digunakan nelayan, sehingga sebagian nelayan hanya menggunakan jaring dan pancing untuk memperoleh ikan.

"Jumlah nelayan yang mengguakan perahu payang saat ini sudah berkurang, namun nelayan yang menggunakan perahu jukung semakin banyak dan hal tersebut juga menyebabkan hasil tangkapan nelayan juga sedikit," katanya menambahkan.

Namun tidak semua nelayan beralih menggunakan jaring pada musim paceklik, sebagian nelayan justru beralih profesi menjadi pedagang atau buruh tani untuk mendapatkan penghasilan.

"Kalau musim paceklik seperti ini, saya memilih menjadi buruh tani dan berdagang serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena hasil tangkapan ikan selama musim paceklik juga berkurang," kata nelayan di Kecamatan Ambulu, Mahfudi.

Sebagian nelayan, lanjut dia, memperbaiki jaring dan perahu yang rusak selama musim paceklik, namun terkadang masih ada nelayan yang nekat melaut karena kebutuhan ekonomi.

"Hasil tangkapan ikan setiap tahun selalu menurun karena jumlah nelayan yang semakin banyak dan jumlah ikan yang berkurang akibat rusaknya terumbu karang," katanya.

Berdasarkan tabel statistik Pemkab Jember, produksi ikan laut pada tahun 2013-2015 mengalami penurunan seperti ikan tuna jauh pada tahun 2014 sebanyak 2.138 ton, sedangkan pada tahun 2015 justru menurun menjadi 429 ton.

Data yang dimiliki Disperikel mencatat armada kapal penangkap ikan di Jember pada tahun 2015 sebanyak 98 unit perahu tanpa motor, 1.465 unit perahu bermesin (<5 gross tonnage atau GT), 268 unit perahu sedang (10-20 GT), dan 293 unit perahu besar (20-30 GT).*


Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026