Menanamkan Nasionalisme Generasi Muda Melalui Sekolah Kebangsaan

id Menanamkan, Nasionalisme, Generasi Muda, Melalui Sekolah Kebangsaan

Menanamkan Nasionalisme Generasi Muda Melalui Sekolah Kebangsaan

Penjabat (Pj) Wali Kota Surabaya Nurwiyatno mengingatkan para pelajar SD hingga SMA akan perjuangan para pahlawan melalui sekolah kebangsaan yang digelar pemerintah kota di Taman Jayengrono, Jumat. (Abdul Hakim)

Tugas para pelajar dalam meneruskan perjuangan para pahlawan adalah dengan cara belajar giat di sekolah. Karena sekolah adalah sarana untuk meneruskan perjuangan
Surabaya (Antara Jatim) - Ada banyak cara menanamkan Nasionalisme di kalangan generasi muda khususnya para pelajar di tingkat sekolah dasar (SMA) hingga sekolah menengah atas (SMA).
    
Seiring dengan perkembangan zaman disertai dengan perkembangan teknologi modern mengakibatkan semangat nasionalisme di kalangan generasi muda menurun. Tentunya hal ini perlu disikapi bersama oleh semua pihak, tidak hanya pemerintah, pihak sekolah melainkan orang tua serta lingkungan sekitar.
    
Salah satu cara yang diterapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menanamkan Nasionalisme di kalangan generasi muda adalah menggelar Sekolah Bangsa setiap memperingati Hari Pahlawan 10 November.
    
Sekolah kebangsaan dihadiri ratusan pelajar di Surabaya. Untuk tahun ini sekolah kebangsaan digelar di Taman Jayengrono dan rumah Pahlawan Nasional Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII Surabaya.
    
Sedangkan untuk tahun-tahun sebelumnya, pada saat Tri Rismaharini masih menjabat sebagai Wali Kota Surabaya, sekolah kebangsaan sempat digelar di SMU Santa Maria, SMA Santo Luis, Rumah HOS Cokroaminoto, Kantor PCNU Surabaya, Museum Revolusi, Rumah Lahir Soekarno, Kantor Pos Kebon Rojo, Sekolah Don Bosco, Rumah WR Supratman, dan SMAN 2 Surabaya.
    
Sekolah kebangsaan yang hanya ada di Kota Surabaya adalah bertujuan mengenang sekaligus belajar tentang sejarah perjuangan di Kota Surabaya, serta meneladani sikap patriotisme para pahlawan.
    
Konsep kegiatan sekolah kebangsaan, dikemas layaknya aktifitas belajar mengajar. Penjabat (Pj) Wali Kota Surabaya, Nurwiyatno, ditemani para veteran saling bergantian dalam memberikan materi. Lokasi yang dipilih pun, merupakan tempat-tempat yang sarat akan nilai sejarah.
    
Pj Wali Kota, Nurwiyatno mengingatkan kembali kepada ratusan pelajar agar tidak mudah terpengaruh budaya asing, khususnya budaya yang bersifat negatif. Masuknya budaya asing, dapat dengan mudah melunturkan nilai – nilai luhur perjuangan para pahlawan kota surabaya.
    
"Tugas para pelajar dalam meneruskan perjuangan para pahlawan adalah dengan cara belajar giat di sekolah. Karena sekolah adalah sarana untuk meneruskan perjuangan. Banyak budaya asing yang masuk dengan mudah, mengajarkan hal–hal baru, namun belum tentu baik bagi kita," ujarnya saat menjadi pembicara sekolah kebangsaan di Taman Jayengrono, Jumat (30/10).
    
Pj Wali Kota menjelaskan, dipilihnya Taman Jayengrono karena, taman ini dibangun untuk mengenang semangat para perjuangan Arek–Arek Suroboyo pada pertempuran dahsyat di kawasan Jembatan Merah.
    
Setelah PJ Wali kota menyampaikan nasihat, tiba giliran Purnawirawan Kapten Supardi dari Legiun Veteran Repulik Indonesia. Dengan semangat berapi-api, Supardi menjelaskan tentang sejarah pertempuran di jembatan merah dan bagaimana AWS Mallaby tewas.
    
Sehingga, lanjut dia, membuat pasukan sekutu mengeluarkan ultimatum kepada pasukan Indonesia di Surabaya pada tanggal 9 November 1945 agar menyerahkan senjata tanpa syarat, dan pada tanggal 10 November 1945 pecahlah Pertempuran 10 November karena pihak Indonesia tidak menghiraukan ultimatum ini.
    
Pada sesi tanya jawab, Putri Fifiana Kusuma Ningrum dari SMPN 5 menyempatkan menanyakan seputar Nasionalisme dan kepahlwanan. "Bagaimana cara pahlawan yang meninggal, namun tidak diketahui identitasnya dikebumikan"? tanyanya.  
    
Supardi menjelaskan, jika pahlawan yang meninggal tak memiliki identitias, maka akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa dan 10 November di Jalan Mayjen Sungkono.
    
"Jika kita datang ke TMP Kusuma Bangsa, maka pada bagian belakang makan, ada zona yang berisikan makam pahlawan tanpa identitas. Tak hanya pahlawan, tentara sekutu yang tidak diketahui identitasnya juga dimakamkan dengan cara yang manusiawi di TMP Moro Krembangan," Jawab Supardi.

Jangan Lupakan Sejarah
     
Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Surabaya Hartoyik mengelorakan semangat ratusan siswa yang hadir di Sekolah kebangsaan yang digelar di rumah Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Selasa (3/11).
    
Diawali dengan teriakan pekik merdeka yang menggelegar, Hartoyik lantas mengisahkan kembali perjuangan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan.
    
Menurutnya, di Jawa Timur ada sekitar 12 tokoh yang terlibat dalam upaya mempertahankan kemerdekaan, dengan peran berbeda-beda. "Banyak dari para pahlawan yang hanya tinggal tulang-belulang. Tetapi, ada banyak calon pahlawan di hadapan saya. Saya sangat yakin dengan anak-anakku semua karena Surabaya punya sejarah yang paling hebat dalam pertempuran 45," jelas Hartoyik.
    
Hartoyik menyampaikan bahwa sekolah kebangsaan merupakan ide Pemerintah Kota Surabaya yang di daerah manapun belum ada. Menurutnya, melalui Sekolah Kebangsaan, patriotism para pejuang bisa dipatrikan kepada anak-anak Surabaya.
    
"Ini merupakan tambahan wawasan luar biasa bagi anak-anak. Melalui Sekolah Kebangsaan, anak-anak bisa mengingat seperti apa perjuangan dan pengorbanan para pejuang dalam merintis kemerdekaan," ujarnya.
    
Ia mengatakan Rumah Pahlawan Nasional HOS Tjokroaminoto dipilih menjadi tempat penyelenggaraan Sekolah Kebangsaan agar selalu diingat oleh para generasi penerus bangsa.
    
Menurut dia, rumah tersebut telah melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang berpengaruh terhadap perjuangan kemerdekaan RI.  Lebih lanjut Hartoyik menjelaskan tentang perjuangan yang terjadi di Surabaya.
    
Ia menjelaskan telah  terjadi pertempuran luar biasa antara Ujung Galuh dengan pasukan Tar-tar. Surabaya juga menjadi tempat pertempuran 10 November.
    
Untuk itu, ia mengharapkan kepada Pemerintah agar mengadakan peringatan Hari Pahlawan secara Nasional. Melalui upacara dengan Presiden Republik Indonesia sebagai inspektur upacara.
    
Hartoyik juga menjelaskan kenapa Sekolah Kebangsaan selalu digelar di rumah Tjokroaminoto. Menurutnya Tjokroaminoto adalah guru bangsa atau cikal bakal adanya kemerdekaan di Negeri ini.
    
Diketahui Tjokroaminoto menempuh pendidikan dasar sekolah Belanda di Madiun. Kemudian pendidikan lanjutnya di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) atau sekolah pendidikan untuk pegawai pribumi di Magelang (1902).
    
Di OSVIA, lama pendidikan adalah 5 tahun dan bahasa pengantarnya adalah bahasa belanda. Sekolah ini tidak saja terbuka bagi anak-anak golongan priyai, tetapi terbuka juga bagi anak-anak golongan biasa yang ingin memasuki dinas pengreh praja.
    
Setelah lulus dari OSVIA, Pada tahun 1902 sampai 1905 Tjokroaminoto menjadi juru tulis Patih di Ngawi (Jawa Timur), kemudian menjadi patih (pejabat dalam lingkungan pegawai negara pribumi), pembantu utama pada seorang bupati (regent). Pada bulan September 1905 ia minta berhenti dari jabatan. Alasannya, karena ia merasa tidak puas dalam kehidupan kepegawaian, tidak banyak menggembirakan hati dan terus-menerus berjongkok dan menyembah.
    
Tak lama setelah ia menikah dengan Suharsikin putri dari Patih Ponorogo. Lalu ia pindah ke Surabaya dan bekerja di sebuah perusahaan swasta. Selain sebagai pegawai swasta, di rumahnya juga Tjokro menerima kos-kosan yang dikelola oleh istrinya. Di antara anak kosnya adalah Soekarno/Bung Karno, yang merupakan presiden pertama RI, ketika ia duduk di HBS Surabaya.
    
Sesudah menyelesaikan pendidikannya, HOS Tjokroaminoto mendapat pekerjaan pada sebuah pabrik gula (1907-1912) dan menulis di Harian Bintang Surabaya. Selanjutnya, ia bekerja pada sebuah biro teknik di Surabaya. Bergabungnya HOS Tjokroaminoto pada organisasi Sarekat Islam dan peranannya dalam menangani Sarekat Islam.
    
Suatu keanehan bahwa tokoh ini berkenalan dan masuk ke dalam Sarekat Islam bukan didorong oleh keyakinan yang diharapkan dari seorang pejuang, melainkan lebih terletak pada soal kebetulan. Waktu Sarekat Islam (SI) didirikan (dengan nama Sarekat Dagang Islam/SDI) pada tahun 1911 di Surakarta, pimpinan berada ditangan K.H. Samanhoeddhi.
    
Dalam pandangan Samanhoedhi SDI (Sarekat Dagang Islam) mestilah diperlebar cakupannya, tak hanya mengurusi soal–soal dagang saja, tapi juga politik dan dakwah. Ia menyadari bahwa kader yang bisa membawa kearah cita-cita tersebut tidaklah banyak, belum lagi soal keberanian. Maka dicarilah orang yang berani dan punya visi kedepan.
    
Pada tanggal 10 september 1912, di tangan Tjokroaminoto Sarekat Dagang Islam (SDI) mengubah namanya menjadi Sarekat Islam (SI). Ia lalu mengubah haluan, menjadikan SI sebagai kumpulan umat Islam yang hendak menegakkan Islam sebagai agama dan mengilmui Islam.
    
Maka, para anggotanya pun tak semuanya para pedagang, tetapi dari semua unsur masyarakat. Saat itulah SI merambah ke berbagai bidang kehidupan umat, tak hanya beredar di Solo dan Jawa, tetapi juga melebar ke wilayah-wilayah luar jawa.
    
Dalam kesempatan tersebut penjabat Wali Kota Surabaya Nurwiyatno memberikan wawasan kebangsaan. Menurutnya, arek-arek Suroboyo bersatu padu membawa bambu runcing mempertahankan kemerdekaan melawan musuh bersenjatakan meriam.
    
"Semangat juang tanpa kompromi, semangat inilah yang mengalir dalam darah pelajar," katanya.
    
Nurwiyatno mengatakan pelajar mendapat tugas yang tidak mudah karena menghadapi era globalisasi. Budaya asing datang begitu deras, ia meminta kepada para pelajar untuk benar-benar menyaring budaya yang tidak sesuai dengan budaya sendiri.
    
"Era globalisasi pekerja asing akan datang menjadi pekerja. Ia juga meminta para peserta berjuang dengan rajin belajar," katanya.
    
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya, Wiwiek Widayati menuturkan, tujuan utama sekolah kebangsaan adalah memberikan pemahaman kepada pelajar Surabaya akan pentingnya nilai perjuangan.
    
"Surabaya adalah satu-satunya kota yang memiliki predikat sebagai kota pahlawan di Indonesia. Oleh karena itu, nilai luhur perjuangan harus ditekankan kepada seluruh lapisan masyarakat termasuk para pelajar," katanya.
    
Selain sekolah kebangsaan, Pemerintah Kota Surabaya juga memiliki banyak program terkait hari pahlawan. Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan (Dispendik) Surabaya mengajak para pelajar untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah.
    
"Dispendik yang menentukan jadwal pelajar maupun sekolah mana yang mengikuti program secara bergilirian," katanya.
    
Ia mengatakan pada Rabu (28/10) diadakan "heroic track" dengan mengunjungi Balai Kota Surabaya, Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Bangsa, Gedung Nasional Indonesia, Tugu Pahlawan, dan Rumah H.O.S Tjokroaminoto. (*)

Pewarta :
Editor: Akhmad Munir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar