Sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan kejuruan atau SMK harus lebih memperhatikan lulusannya dalam memperoleh pekerjaan, karena lulusan SMK semestinya tidak asal memperoleh pekerjaan, namun juga harus linier dengan kompetensi siswa.
Surabaya (Antara Jatim) - Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur (Jatim) mengatakan lulusan SMK seharusnya bisa lebih linier dengan kompetensi siswa, karena lulusan SMK semestinya tidak asal memperoleh pekerjaan, sehingga mereka bisa terserap lapangan pekerjaan sesuai kompetensi.
"Sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan kejuruan atau SMK harus lebih memperhatikan lulusannya dalam memperoleh pekerjaan, karena lulusan SMK semestinya tidak asal memperoleh pekerjaan, namun juga harus linier dengan kompetensi siswa," kata Kepala Disdik Jatim, Dr Saiful Rachman, ketika dikonfirmasi di Surabaya, Jumat.
"Sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan kejuruan atau SMK harus lebih memperhatikan lulusannya dalam memperoleh pekerjaan, karena lulusan SMK semestinya tidak asal memperoleh pekerjaan, namun juga harus linier dengan kompetensi siswa," kata Kepala Disdik Jatim, Dr Saiful Rachman, ketika dikonfirmasi di Surabaya, Jumat.
Ia mengatakan hal tersebut menjadi sangat penting bagi masa depan karier siswa serta bagi penilaian sekolah, karena jumlah siswa yang terserap lapangan kerja sesuai kompetensinya akan menambah poin dalam penilaian Standar Kompetensi lulusan (SKL) yang tercantum pada Standar Nasional Pendidikan (SNP).
"Tingginya jumlah lulusan SMK yang bekerja tidak sesuai kompetensi, sehingga kami sedang gencar melakukan sertifikasi kompetensi agar lulusan dapat bekerja sesuai bidang keahliannya karena banyak lulusan SMK di Jatim yang bekerja tidak sesuai kompetensinya, namun itu dulu," tuturnya.
Sekarang ini, lanjutnya pihaknya sudah ada sertifikasi kompetensi yang akan digunakan siswa melamar pekerjaan sesuai bidangnya, sedangkan tahun ini Jatim telah menyiapkan program sertifikasi kompetensi untuk 13 ribu siswa SMK yang dicanangkan setelah Disdik Jatim melakukan kerja sama dengan Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP).
"Kuota yang diterima dari pusat mencapai 7.000 sertifikasi, sedangkan 6.000 sertifikasi akan ditanggung oleh APBD Jatim. Jatim termasuk provinsi yang sangat sadar akan pentingnya sertifikasi kompetensi untuk calon lulusan SMK, sehingga BNSP mau mengalokasikan kuota sertifikasi sebesar itu untuk Jatim,” ujarnya.
Menurut dia, fakta tentang tingginya lulusan yang bekerja tidak sesuai kompetensi ini juga dapat dilihat dari hasil analisis akreditasi SMK di Jatim tahun 2015, dari 1.494 program keahlian yang dinilai Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP S/M).
"Dari 1.494 program keahlian yang dinilai BAP S/M hanya 20 persen diantaranya yang memiliki lulusan bekerja sesusai kompetensi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sehingga hal ini menunjukkan SKL SMK di Jatim masih tergolong rendah," paparnya.
Sementara itu, Sekretaris BAP S/M Jatim Soeparno mengungkapkan, SKL bisa dijadikan ukuran dari keberhasilan sekolah mendidik siswa. Baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Untuk pendidikan kejuruan, psikomotorik yang berarti keterampilan seharusnya memiliki porsi yang lebih besar dari dua kemampuan lainnya.
“Yang dijual lulusan SMK itu keterampilannya agar bisa bekerja sesuai bidang keahlian, karena pada standar prosesnya, siswa SMK harus lebih banyak praktik dari pada teori,” terangnya.
Dua hal yang perlu dilakukan pemerintah dan sekolah untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK, diantaranya pelaksanaan praktik kerja industri (praktik) yang sesuai dengan bidang keahlian siswa dan peningkatan mutu guru produktif, karena guru produktif yang bersentuhan langsung dengan kegiatan praktik siswa.
“Dari semua standar yang harus dipenuhi sekolah, SKL adalah penentunya. Percuma kalau standar yang lain bagus tapi lulusannya tidak memiliki kompetensi yang ideal,” tandasnya. (*)
Pewarta: Laily Widya ArisandhiEditor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.